RIAU ONLINE, PADANG PANJANG - Seabad yang lalu, persisnya 28 Juni 1926, Dataran Tinggi Padang (Padangsche Bovenlanden), Sumatra's Westkust didera gempa dahsyat yang menghancurkan dan mematikan. Kini, seabad peristiwa itu berlalu, Yose Hendra seorang jurnalis dan peminat sejarah, menerbitkan buku sekaitan dengan sejarah dan dinamika gempa 1926 itu dengan judul Gempa Tujuh Hari.
Yose Hendra meluncurkan buku tersebut secara resmi di kompleks Pusat Dokumentasi Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Kota Padang Panjang, Sabtu 27 Juni 2026.
"Minggu, 28 Juni 2026 adalah hari bersejarah karena bertepatan dengan seabad peristiwa gempa 1926, salah satu bencana paling besar di Sumatera Barat di masa kolonial Belanda. Buku ini sengaja diluncurkan hari ini, supaya turut berkontribusi dalam menarasikan kembali peristiwa tersebut," kata Yose yang menggiatkan literasi soal kebencanaan melalui Patahan Sumatra Institute bersama Ade Edward dan Ade Rahadian.
Alumni Ilmu Sejarah Universitas Andalas ini, menghasilkan buku dengan ketebalan lebih 300 halaman setelah melahap riset independen selama 14 tahun terakhir.
Riset tersebut mengungkap bahwa gempa Padang Panjang 1926 merupakan salah satu dokumentasi paling lengkap mengenai gempa darat yang bersumber dari Sesar Sumatra. Peristiwa itu juga memperlihatkan bagaimana dua segmen patahan aktif melepaskan energi dalam waktu yang berdekatan atau dikenal sebagai gempa kembar (doublet earthquake).
Ini semakin menguatkan karakteristik gempa besar di patahan Sumatra yang beruas di Sumatra Barat, dimana bekerja (aktif) seperti sistem yang “terfragmentasi.” Artinya, satu segmen bisa bergerak sementara bagian lain tetap “terkunci”. Lazimnya, gempa utama terjadi berurutan dalam waktu singkat dan mengaktifkan segmen yang berbeda.
Yose menjelaskan, gempa kembar yang dimaksud adalah dua gempa utama (main shock) yang terjadi dalam waktu berdekatan, namun pada segmen berbeda di ruas Patahan Sumatra.
Gempa pertama terjadi pukul 10 lewat 4 menit 28 detik P.M.T. (Pagi, malam, tengah hari), dengan hiposentrum pada segmen Sumani. Kekuatannya (magnitudo) di atas 6.6. Lalu pukul 12 lewat 56 menit 47 detik terjadi lagi gempa dengan kekuatan sedikit lebih besar lagi. Adapun hiposentrumnya di segmen Sianok.
“Catatan soal jam dan koordinatnya terpatri pada goresan pena seismograf Observatorium Batavia (Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau lembaga BMKG sekarang) menangkap gempa kuat kedua datang pada pukul 12 lewat 56 menit 47 detik siang. Guncangannya lebih keras lagi dengan skala MMI (Modified Mercalli Intensity) IX,” terang Yose.
Di samping itu, Yose juga menyebut, pemerintah Kolonial Belanda (Hindia Belanda) merespons gempa dengan pendekatan ilmiah. Misal untuk memastikan hiposenter dan episentrum gempa serta analisis perspektif geologis, mereka menerjunkan para ahli seperti geolog dan vulkanolog. Bahkan para geolog lain yang berpengaruh di zaman itu juga ikut menoleh dan beropini pada gempa 1926 itu.
Misal saja permintaan Residen Sumatra’s Weskust P.C. Arends kepada pemerintahan pusat di Buitenzorg (Bogor) untuk memastikan penyebab dan hal sekaitan gempa, maka direspons dengan mengirim seismolog dan geolog Simon Willem (S.W.) Visser dan vulkanolog M.E. Akkersdijk.
Alhasil, ungkap Yose, mereka memastikan bahwa gempa hari Senin itu bersifat tektonik, bersumber dari pergesekan patahan di daratan Pulau Sumatra yang tersimpan di kedalaman lekuk pegunungan Bukit Barisan. Dikatakannya, episentrum gempa terkait dengan garis patahan geologi yang memanjang dari Sumatra bagian utara hingga Lampung. Kita mengenalnya saat ini sebagai patahan Sumatra atau patahan Semangko.
Peristiwa 28 Juni 1926 dikenang dengan banyak nama. Dalam laporan pemerintah kolonial dan publikasi ilmiah, gempa ini kerap disebut Gempa Sumatra's Westkust, merujuk pada wilayah administratif yang terdampak luas di Pantai Barat Sumatra. Di kalangan masyarakat Minangkabau, sebutan yang lebih akrab adalah Gempa Padang Panjang, sebab kota inilah yang menerima pukulan paling dahsyat sekaligus menjadi simbol tragedi tersebut.
Namun, di antara berbagai penamaan itu, ada satu istilah yang paling membekas dalam ingatan masyarakat: Gampo Toedjoeh Hari atau Gempa Tujuh Hari. Inilah yang menjadi judul buku ini.
Dalam berbagai pemberitaan surat kabar masa kolonial, istilah Gampo Toedjoeh Hari berulang kali muncul. Sebutan itu juga dipertegas oleh anggota Volksraad, Loetan bergelar Datoek Rangkajo Maharadjo saat bercakap dengan zoolog Belanda Edward Richard Jacobson. Sebagaimana dimuat dalam Naamlijst der Leden van de Koninklijke Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indië (1927), yang menyebut bencana tersebut sebagai gempa yang "mengguncang bumi selama tujuh hari tujuh malam".
Sebutan tersebut lahir bukan semata karena dua gempa besar yang mengguncang pada 28 Juni 1926, melainkan karena bumi tidak segera kembali tenang. Gempa susulan terus berlangsung selama berhari-hari, bahkan getarannya masih tercatat hingga Agustus 1926. Ketakutan membuat warga memilih tidur di lapangan terbuka, sementara setiap guncangan baru memperpanjang kecemasan yang belum sempat reda.
Salah satu temuan penting dalam buku Gempa Tujuh Hari adalah upaya merekonstruksi skala kerusakan dan korban berdasarkan arsip-arsip primer kolonial yang selama ini tersebar di berbagai laporan. Penelitian ini mengungkap bahwa data korban Gempa Padang Panjang 1926 sempat mengalami silang sengketa karena berasal dari beragam sumber. Namun, laporan Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1927), yang disusun beberapa bulan setelah bencana di bawah koordinasi Residen Sumatra's Westkust, berhasil memverifikasi berbagai kesaksian para insinyur, geolog, pejabat pemerintah, pengamat lapangan, hingga masyarakat.
Verifikasi yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Ir. A.L. ter Braake, Ir. A.A. Meyers, Mr. J.F.A.M. Koning, Edward Richard Jacobson, hingga Soetan Marah Alam menunjukkan bahwa Padang Panjang menjadi wilayah yang menerima dampak paling dahsyat. Di kawasan Padang Panjang, X Koto, Batipuh, Sumpur, dan Malalo tercatat sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat, dengan 1.709 rumah berada di X Koto. Korban jiwa mencapai sedikitnya 247 orang, termasuk 220 korban di Padang Panjang dan X Koto. Kerusakan juga meluas ke Fort de Kock (kini Bukittinggi), Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau hingga Lubuk Sikaping. Kantor berita Aneta bahkan memperkirakan nilai kerugian mencapai sekitar 10 juta gulden, angka yang sangat besar untuk ukuran masa itu.
Buku ini juga mengungkap bahwa dahsyatnya Gempa Padang Panjang tidak hanya merenggut korban jiwa dan merobohkan ribuan bangunan, tetapi juga mengubah bentang alam Sumatra Barat dalam hitungan detik. Longsor raksasa di Lembah Anai menimbun Jalan Raya Pos dan memutus jalur kereta api yang menghubungkan Padang dengan Padang Panjang. Di sejumlah lokasi menuju Bukittinggi dan Solok, rel-rel baja terpelintir, melengkung, bahkan terangkat dari bantalannya akibat deformasi tanah yang dipicu pergerakan Sesar Sumatra.
Mengacu pada dokumentasi De Ingenieur (1926) dan Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1927), penelitian ini memperlihatkan bagaimana infrastruktur modern kebanggaan pemerintah kolonial lumpuh total. Sebagian jalur rel di tepian Danau Singkarak bahkan bergeser dan terbenam, sementara sejumlah jembatan mengalami kerusakan berat akibat pergeseran tanah.
Tak hanya itu, buku ini juga mengangkat satu fenomena yang jarang dibahas dalam sejarah kebencanaan Indonesia, yakni munculnya gelombang besar di Danau Singkarak sesaat setelah gempa utama. Kajian seismolog S.W. Visser dan vulkanolog M.E. Akkersdijk menyebut fenomena tersebut dipicu oleh kombinasi osilasi air danau (seiche), longsoran besar di lereng danau, serta kemungkinan pergerakan vertikal sesar di dasar danau. Sedikitnya lima gelombang besar dilaporkan menghantam tepian danau, menyeret rumah-rumah kayu, merendam lahan pertanian, dan mengubah garis pantai di sejumlah lokasi.
Di balik kehancuran tersebut, buku Gempa Tujuh Hari juga merekam kisah pemulihan yang luar biasa. Berkat dukungan pemerintah kolonial dan solidaritas masyarakat, proses rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung relatif cepat. Menjelang akhir 1928, sebagian besar rumah, fasilitas umum, dan bangunan pemerintahan yang rusak telah berhasil dibangun kembali. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik bencana besar selalu ada daya lenting masyarakat untuk bangkit, sekaligus pelajaran penting tentang pentingnya membangun kawasan rawan gempa dengan mempertimbangkan karakter geologi dan prinsip-prinsip mitigasi bencana.
Selain merekam besarnya kerusakan, penelitian ini juga menyoroti sisi lain yang jarang diangkat, yakni lahirnya solidaritas lintas etnis, agama, dan negara dalam membantu para korban. Bantuan kemanusiaan mengalir dari berbagai daerah di Hindia Belanda hingga Belanda dan Eropa, menjadi bukti bahwa bencana mampu menyatukan masyarakat melampaui sekat-sekat sosial pada masa kolonial.
Salah satu pelajaran terpenting dari gempa satu abad silam adalah mengenai ketahanan bangunan. Kajian arsip menunjukkan bahwa banyak bangunan tembok bergaya kolonial runtuh akibat konstruksi yang kaku, sementara rumah-rumah kayu dan rumah gadang Minangkabau justru mampu bertahan karena memiliki struktur yang lebih lentur mengikuti guncangan gempa.
"Gempa 1926 mengajarkan bahwa di wilayah rawan gempa, ketangguhan bangunan bukan ditentukan oleh kesan kokoh, melainkan oleh kemampuan konstruksi mengikuti gerakan bumi. Kearifan arsitektur tradisional Minangkabau sesungguhnya menyimpan pengetahuan mitigasi yang lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan gempa," ujar Yose Hendra.
Melalui peringatan seabad ini, masyarakat diajak untuk tidak sekadar mengenang bencana sebagai catatan sejarah, tetapi menjadikannya sebagai sumber pembelajaran dalam membangun budaya sadar bencana. Ingatan kolektif terhadap gempa besar perlu terus dirawat agar menjadi fondasi dalam memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan kualitas pembangunan, serta menjaga keselamatan generasi mendatang.
Pakar geologi dan geotektonik Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, buku Gempa Tujuh Hari karya Yose Hendra ini menghadirkan upaya penting untuk membaca kembali salah satu peristiwa gempa paling bersejarah di Sumatra Barat, yaitu gempa 28 Juni 1926 di kawasan Dataran Tinggi Padang.
“Peristiwa ini tidak hanya signifikan karena besarnya dampak yang ditimbulkan, tetapi juga karena keterkaitannya dengan sistem tektonik yang hingga kini masih aktif bergerak. Sumatra berada di salah satu sistem tektonik paling aktif di dunia. Interaksi antara Lempeng IndoAustralia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia menghasilkan deformasi yang kompleks. Sebagian regangan tektonik diakumulasi, dan dilepaskan melalui zona subduksi di lepas pantai barat Sumatra, sementara sebagian lainnya diakomodasi oleh Sesar Sumatra, suatu sistem sesar geser besar yang memanjang sepanjang tulang punggung pulau ini,” terang Danny sebagaimana dicuplik dari Kata Pengantara untuk buku Gempa Tujuh Hari.
Dalam konteks tersebut, gempa 1926 merupakan manifestasi aktivitas Sesar Sumatra, yaitu pergerakan tiba-tiba pada bidang sesar yang menghasilkan pelepasan energi dan gelombang seismik. Penting untuk dipahami bahwa sumber gempa bukanlah suatu titik tunggal, melainkan bidang sesar yang dapat memanjang hingga puluhan bahkan ratusan kilometer. Pergeseran ini tidak hanya menimbulkan guncangan, tetapi dalam banyak kasus juga menjalar hingga ke permukaan sebagai ruptur permukaan sesar, yaitu deformasi dan rekahan tanah yang terjadi di sepanjang jalur sesar atau patahan.
Menurutnya, buku ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan tentang gempa tidak hanya tersimpan dalam kajian ilmiah, tetapi juga hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, dalam cerita lisan, syair, lagu, dan cara orang menandai waktu. Pengetahuan lokal ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga bagian penting dari sistem pengetahuan kebencanaan yang dapat memperkuat kesiapsiagaan.
“Mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal merupakan salah satu kunci untuk membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana,” ujar peneliti dari BRIN ini.
Dalam konteks Sumatra Barat, dikatakan Danny, hal ini menjadi sangat relevan karena masyarakat hidup di atas sistem geologi aktif yang terus bergerak dalam skala waktu geologi maupun manusia.
“Saya mengapresiasi upaya Yose Hendra dalam menghadirkan kembali peristiwa gempa 1926 dengan pendekatan yang humanis, reflektif, dan semakin kuat secara ilmiah. Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga sebagai media edukasi kebencanaan yang penting bagi masyarakat luas,” ungkapnya.
Pada akhirnya, sebut ahli Sesar Sumatra ini, buku karya Yose Hendra mengingatkan kita bahwa hidup di atas tanah yang aktif secara tektonik menuntut lebih dari sekadar ketahanan. Ia menuntut pemahaman, kesiapsiagaan, dan kesediaan untuk terus belajar daripada masa lalu. Gempa 1926 bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga cermin bagi mitigasi bencana di masa depan.
Sementara Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padang Panjang Suaidi Ahadi menilai buku Gempa Tujuh Hari menghadirkan perspektif baru dalam memahami salah satu bencana terbesar di Sumatra Barat. Ia menilai buku ini tidak hanya mengingatkan publik pada tragedi Gempa Padang Panjang 1926, tetapi juga membuka pemahaman mengenai karakteristik gempa besar yang bersumber dari Sesar Sumatra.
"Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana Yose Hendra menunjukkan bahwa gempa 1926 memiliki karakteristik gempa kembar (doublet earthquake). Pola seperti ini kembali terlihat pada gempa 1943 yang melibatkan Segmen Suliti dan Sumani, serta gempa 2007 yang mengaktifkan Segmen Sumani dan Sianok. Benang merah sejarah kegempaan itu ditulis dengan sangat baik," ujar Suaidi.
Ia juga mengapresiasi riset panjang yang dilakukan Yose Hendra selama lebih dari 14 tahun dalam menelusuri arsip-arsip kolonial, termasuk keberhasilan menemukan rekaman seismogram Gempa 1926. Temuan tersebut, menurutnya, menjadi salah satu kontribusi penting buku ini bagi kajian sejarah kebencanaan Indonesia.
"Dari seismogram itu kita dapat menghitung kembali besarnya energi yang dilepaskan gempa dan memperkirakan magnitudonya. Intensitas guncangannya mencapai sekitar MMI IX sehingga dampaknya sangat besar. Itu menjelaskan mengapa rel-rel kereta api sampai terpelintir, terjadi gelombang besar di Danau Singkarak, dan kerusakan meluas di kawasan Dataran Tinggi Padang," katanya.
Suaidi menjelaskan, deformasi rel kereta api yang terekam dalam dokumentasi kolonial bukan sekadar akibat guncangan biasa, melainkan jejak pergerakan energi gempa yang merambat ke permukaan. "Rel-rel yang melengkung itu sebenarnya merekam arah pergerakan tanah saat patahan bergerak. Dari bukti-bukti tersebut kita bisa membaca mekanisme sumber gempa dan arah pelepasan energinya. Inilah yang membuat buku Gempa Tujuh Hari tidak hanya penting sebagai karya sejarah, tetapi juga sebagai referensi ilmiah mengenai karakter gempa besar di Sumatra Barat," ujarnya.
Peluncuran buku Gempa Tujuh Hari yang dilakukan Yose kemarin, menjadi bagian giat Pemerintah Kota Padang Panjang bersama berbagai pemangku kepentingan dalam pagelaran Refleksi Satu Abad Gempa 1926 di PDIKM. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang sejarah sekaligus memperkuat budaya sadar bencana dan ketangguhan masyarakat.
Refleksi tersebut dirangkai dengan peletakan batu pertama pembangunan penanda sejarah Gempa 1926 sebagai simbol pengingat bagi generasi mendatang akan salah satu bencana terbesar yang pernah terjadi di Sumatera Barat.
Wali Kota Hendri Arnis yang diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, I Putu Venda mengatakan, peringatan satu abad gempa tidak sekadar mengenang tragedi masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat akan semangat masyarakat Padang Panjang yang mampu bangkit dari bencana.
"Kita mengenang gempa 28 Juni 1926 sebagai pengingat bagi generasi hari ini dan generasi mendatang bahwa kota ini pernah mengalami salah satu tragedi terbesar dalam sejarahnya. Namun dari peristiwa itu pula, masyarakat Padang Panjang membuktikan mampu bangkit dan terus melangkah ke depan," ujarnya.
Ia menyampaikan, bencana yang meluluhlantakkan infrastruktur dan merenggut banyak korban jiwa itu menyisakan pelajaran berharga tentang pentingnya gotong royong, ketabahan, dan kebersamaan dalam membangun kembali daerah.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut terus diwariskan hingga kini dan menjadi kekuatan yang mengantarkan Padang Panjang berkembang sebagai kota pendidikan, kota budaya, dan kota religius.
"Refleksi satu abad gempa ini harus menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan budaya sadar bencana, serta membangun masyarakat yang semakin tangguh menghadapi berbagai potensi bencana di masa depan," tandasnya.

