Sabarudi: Hiburan di Pasar Kuliner Cut Nyak Dien Perlu Dievaluasi Sesuai Budaya Melayu

Anggota-DPRD-Kota-Pekanbaru-Muhammad-Sabarudi.jpg
Anggota DPRD Kota Pekanbaru, Muhammad Sabarudi (HERIANTO WIBOWO/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Suasana Pasar Kuliner Malam Cut Nyak Dien, Kota Pekanbaru, yang selama ini dikenal sebagai pusat jajanan dan pemberdayaan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), belakangan menjadi perhatian masyarakat.

Sorotan muncul setelah digelarnya hiburan live music dengan menghadirkan tiga Disc Jockey (DJ) di salah satu lapak usaha di kawasan tersebut pada Sabtu malam 16 Mei 2026.

Di tengah ramainya pengunjung yang memadati kawasan kuliner malam itu, muncul berbagai kritik dari masyarakat yang menilai konsep awal pusat kuliner mulai bergeser dan dinilai keluar dari tujuan utama pemberdayaan UMKM.

Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kota Pekanbaru, Muhammad Sabarudi, meminta pemerintah kota melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama Satpol PP Kota Pekanbaru segera melakukan evaluasi terhadap konsep kegiatan di kawasan kuliner tersebut.

“Sedapat mungkin Disperindag dan Satpol PP Pekanbaru melakukan evaluasi program pemberdayaan UMKM. Salah satu konsepnya adalah memperhatikan nilai budaya Melayu. Apakah nanti sudah tidak senilai dengan budaya, itu harus dievaluasi,” ujar Sabarudi, Senin 18 Mei 2026.


Politisi PKS itu menilai kawasan Pasar Kuliner Malam Cut Nyak Dien seharusnya tidak hanya menjadi pusat ekonomi masyarakat, tetapi juga dapat menjadi ruang promosi budaya daerah.

Menurut mantan Ketua DPRD Kota Pekanbaru tersebut, akan lebih baik jika hiburan yang ditampilkan di kawasan kuliner malam diisi dengan pertunjukan seni dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya budaya Melayu Riau.

“Alangkah baiknya jika di Pasar Kuliner Malam Cut Nyak Dien disajikan berbagai pertunjukan seni budaya dari berbagai daerah. Dengan begitu generasi muda bisa mengenal dan mempertahankan budaya-budaya yang ada di Riau dan Indonesia,” katanya.

Sabarudi juga menegaskan bahwa pemerintah perlu mendengar aspirasi masyarakat terkait konsep hiburan yang ditampilkan di ruang publik, terlebih kawasan kuliner malam tersebut banyak dikunjungi keluarga.

“Kalau ada yang tidak tepat dipandang masyarakat, harus ada evaluasi,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa pengunjung Pasar Kuliner Malam Cut Nyak Dien bukan hanya kalangan dewasa, tetapi juga banyak warga yang datang bersama anak-anak dan keluarga untuk menikmati suasana kuliner malam.

"Karena itu, konsep hiburan yang dihadirkan tetap harus mempertimbangkan norma sosial, budaya lokal, serta kenyamanan seluruh lapisan masyarakat," tutupnya.