RIAU ONLINE, ROKAN HILIR - Gelombang kemarahan warga terhadap maraknya dugaan peredaran narkoba di Kecamatan Rantau Kopar kembali memuncak. Dalam aksi yang disebut-sebut sebagai “Demo Jilid II”, ratusan massa turun ke jalan dan membakar rumah yang diduga milik bandar narkoba pada Jumat, 8 Mei 2026 malam.
Aksi tersebut viral di media sosial setelah sejumlah video beredar luas di Facebook dengan akun @M Ali Nur. Dalam rekaman itu tampak warga berkerumun di sekitar lokasi sambil berteriak meminta aparat bertindak tegas terhadap jaringan narkoba yang dinilai sudah lama meresahkan masyarakat.
Tidak hanya kaum pria, sejumlah emak-emak juga terlihat berada di garis depan aksi. Mereka meluapkan kekecewaan terhadap aparat kepolisian yang dianggap lamban dan tidak serius memberantas peredaran sabu di wilayah tersebut.
"Anak-anak kami sudah banyak jadi korban. Kalau terus dibiarkan, kampung ini hancur," teriak seorang ibu dalam video yang beredar di media sosial.
Situasi di lokasi sempat memanas ketika massa mulai membakar bangunan yang disebut-sebut sebagai tempat aktivitas peredaran narkoba. Kobaran api terlihat membumbung tinggi dan menjadi tontonan warga sekitar.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, sedikitnya dua aksi pembakaran terjadi hingga Jumat malam. Warga mengaku aksi nekat tersebut dipicu oleh akumulasi kemarahan masyarakat yang sudah lama resah terhadap aktivitas narkoba di daerah itu.
Sejumlah warga menilai, keberadaan jaringan narkoba di Rantau Kopar seolah sulit disentuh hukum. Bahkan, masyarakat menduga adanya pembiaran sehingga praktik haram tersebut terus berlangsung selama bertahun-tahun.
"Kami sudah terlalu sering mengeluh. Tapi peredaran narkoba masih saja ada. Masyarakat akhirnya bergerak sendiri," keluh warga.
Aksi massa ini menjadi sorotan luas karena Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan yang sebelumnya telah membentuk Satgas Anti Narkoba untuk mempersempit ruang gerak para pelaku peredaran narkotika di Provinsi Riau.
Namun di mata masyarakat, langkah tersebut dinilai belum memberikan dampak signifikan, khususnya di wilayah Rantau Kopar yang disebut-sebut masih menjadi titik rawan peredaran sabu.
Sementara itu, pihak kepolisian belum memberikan penjelasan rinci terkait insiden pembakaran tersebut.
Kabid Humas Polda Riau, Zahwani Pandra Arsyad mengatakan pihaknya masih menunggu laporan lengkap dari jajaran Polres Rokan Hilir.
"Masih menunggu kronologi dari Waka Polres Rohil," ujar Pandra.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai penyebab pasti aksi massa, jumlah warga yang terlibat, maupun identitas pemilik rumah yang dibakar.
Polisi juga belum menjelaskan langkah hukum yang akan diambil terkait aksi anarkis tersebut.
Peristiwa ini menambah daftar panjang keresahan masyarakat terhadap peredaran narkoba di sejumlah daerah di Riau. Warga berharap aparat kepolisian segera mengambil langkah nyata dan tegas agar situasi tidak semakin meluas dan memicu konflik sosial baru di tengah masyarakat.

