Stok BBM Aman, Muhammad Rohid Minta Warga Riau Tidak Panic Buying

Muhammad-Rohid-sidak-di-pekanbaru.jpg
Anggota Komisi XII DPR RI dari Partai Gerindra Muhammad Rohid, sidak ke SPBU di Jalan Imam Munandar, Kota Pekanbaru, Selasa 5 Mei 2026. (WINDA MAYMA TURNIP/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Anggota Komisi XII DPR RI dari Partai Gerindra Muhammad Rohid, melakukan sidak langsung ke SPBU di Jalan Imam Munandar, Kota Pekanbaru, Selasa 5 Mei 2026.

Sidak ini dilakukan untuk melihat langsung kondisi ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Riau, khususnya di Kota Pekanbaru. Pasalnya, sejak beberapa hari belakangan, antrean panjang kendaraan yang diisukan karena kelangkaan BBM, terjadi di hampir seluruh SPBU di Pekanbaru dan sekitarnya.

"Menyikapi keresahan masyarakat, kita tinjau langsung beberapa SPBU di Kota Pekanbaru. Tapi, kita lihat kondisi saat ini sudah kembali normal," ujarnya.

Ia menjelaskan, peninjauan dilakukan sekaligus berkoordinasi dengan Pertamina dan BPH Migas. Hasilnya, diketahui bahwa stok BBM di Riau sama sekali tidak terjadi kelangkaan.

"Kita sudah telusuri dan tidak ada kelangkaan stok BBM. Ini terjadi karena adanya panic buying di tengah masyarakat. Karena melihat ada antrian, ada isu-isu," jelasnya.


Ia menegaskan, masyarakat tidak perlu takut kehabisan BBM karena suplai BBM di Indonesia masih aman. 

Sementara itu, Executive General Manager (EGM) Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Sunardi mengaminkan masih tersedianya suplai BBM di Riau. Baik BBM untuk subsidi seperti solar dan pertalite, serta nonsubsidi seperti Pertamina Dex dan sebagainya. 

"Semua jenis BBM masih ada stoknya. Kecuali BBM nonsubsidi, harganya juga masih sama. Jadi kita imbau agar masyarakat tidak khawatir," jelasnya.

Ia menjelaskan, untuk mengantisipasi panic buying yang terjadi selama beberapa hari ini, pihaknya sudah menambah pasokan hingga 50 persen. Namun, ia berharap konsumsi masyarakat kembali normal dengan tidak melakukan panic buying.

"Kita pastikan stok masih cukup dan aman. Kita juga sudah menambah pasokan untuk mengantisipasi panic buying, pertama kita tambah 30 persen kemudian kita tambah lagi 50 persen. Saat ini, kondisi sudah mulai kembali normal," pungkasnya.