Kebutuhan Pokok Naik, Inflasi YoY Provinsi Riau Capai 2,37 Persen

Ilustrasi-inflasi5.jpg
Ilustrasi inflasi (unsplash.com via kumparan)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Inflasi year on year (YoY) di Provinsi Riau mencapai angka 2,37 persen. Hal ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau dari April 2025-April 2026. 

Kepala BPS Riau, Asep Riyadi mengatakan, angka inflasi ini relatif terkendali dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,03.

Menurutnya, kenaikan inflasi di Provinsi Riau dikarenakan adanya kenaikan sejumlah kelompok pengeluaran, terutama pada pengeluaran untuk kebutuhan pokok. 

"Inflasi YoY terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sembilan kelompok pengeluaran, terutama kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 12,57 persen serta kelompok pendidikan sebesar 5,08 persen," ujarnya, Selasa 5 Mei 2026.

Berdasarkan kabupaten/kota, inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 3,61 persen dengan IHK 113,32. Sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Kampar sebesar 1,51 persen dengan IHK 112,57.


Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran, transportasi, kesehatan, serta makanan, minuman dan tembakau juga turut menyumbang inflasi.

"Sedangkan kelompok perlengkapan rumah tangga serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami penurunan," jelasnya.

Sementara itu, secara bulanan (month to month), Provinsi Riau mengalami inflasi sebesar 0,17 persen pada April 2026. Sementara secara kumulatif tahun berjalan (year to date), masih terjadi deflasi sebesar 0,15 persen.

"Perkembangan ini menunjukkan bahwa secara umum harga komoditas pada April 2026 mengalami kenaikan, namun tetap dalam kondisi yang terkendali," jelasnya.

Lanjutnya, ada sejumlah pengeluaran yang menjadi penyebab inflasi tahunan, diantaranya emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, beras, telur ayam ras, serta nasi dengan lauk. Sementara komoditas seperti cabai merah, bawang putih, dan kentang menjadi penyumbang deflasi.

Untuk inflasi bulanan, komoditas seperti bawang merah, angkutan udara, minyak goreng, ikan, dan bensin menjadi pendorong utama kenaikan harga.

"Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y sebesar 0,94 persen, diikuti kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,50 persen," pungkasnya.