Bangkit dari Ketegangan, Pendekatan Humanis jadi Redam Konflik Panipahan

Bangkit-dari-Ketegangan-Pendekatan-Humanis-jadi-Redam-Konflik-Panipahan.jpg
Muhammad Luthfi, Head of Tumbuh Academy (Istimewa)

RIAU ONLINE, ROKAN HILIR - Ketegangan sosial yang sempat memuncak di wilayah pesisir Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, perlahan mereda. 

Konflik yang dipicu oleh aksi perusakan rumah yang diduga milik bandar narkoba pada April 2026 itu kini bertransformasi menjadi momentum pemulihan kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.

Peristiwa tersebut sebelumnya mencerminkan akumulasi kekecewaan warga terhadap penanganan kasus narkoba yang dinilai lamban dan kurang tegas. Di tengah situasi itu, muncul aksi massa yang mengarah pada praktik vigilantisme atau keadilan jalanan.

"Ketika masyarakat merasa ruang keadilan formal tidak bekerja secara efektif, maka yang muncul adalah mekanisme keadilan jalanan. Ini adalah sinyal keras adanya krisis kepercayaan publik," ujar Muhammad Luthfi, Head of Tumbuh Academy, Sabtu, 18 April 2026.

Muhammad Luthfi menegaskan bahwa pembiaran terhadap tindakan tersebut bukanlah solusi. Menurutnya, aparat penegak hukum harus mampu merespons dengan langkah yang tegas sekaligus transparan.

"Polisi tidak boleh kalah oleh tekanan massa, tetapi juga tidak boleh abai terhadap pesan publik. Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas, transparan, dan terukur," tegasnya.

Pendekatan Humanis dan Dialogis

Dalam meredam konflik, Polda Riau memilih pendekatan berbeda yang tidak semata mengandalkan kekuatan keamanan. Strategi yang diterapkan lebih menitikberatkan pada komunikasi persuasif dan penguatan relasi sosial di tengah masyarakat.

Aparat kepolisian aktif turun langsung ke lapangan, menggelar dialog informal, serta menyambangi tokoh masyarakat dan warga. Langkah ini dinilai efektif dalam mengubah suasana dari penuh emosi menjadi lebih rasional.

Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan bahkan turun langsung ke Panipahan dan menyapa masyarakat secara terbuka.


"Bapak-bapak, Ibu-ibu, apakah butuh polisi?” tanyanya di hadapan warga.

“Buutuuhh!” jawab masyarakat serempak, menjadi penanda mulai pulihnya kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Pendekatan berbasis budaya lokal juga menjadi kunci penting. Tokoh agama, adat, dan figur publik dilibatkan untuk menyampaikan pesan damai dan menjaga kondusifitas wilayah.

Seruan dari tokoh agama serta dukungan figur publik seperti Okan Kornelius, Chika Jessica, Intan RJ, dan Peppy sebagai Duta Anti Narkoba turut membantu meredakan ketegangan.

"Ketika pesan damai disampaikan oleh figur yang dipercaya masyarakat, legitimasi sosial terbentuk lebih kuat dibandingkan imbauan formal semata," kata Luthfi.

Polda Riau juga gencar menyebarkan informasi edukatif kepada masyarakat guna menangkal hoaks dan kesimpangsiuran informasi yang berpotensi memperkeruh suasana.

Ribuan konten edukasi disebarluaskan, mulai dari bahaya narkoba, konsekuensi hukum, hingga cara memilah informasi yang benar.

"Ketika masyarakat mendapatkan informasi yang utuh, ruang spekulasi mengecil dan emosi kolektif lebih mudah dikendalikan," jelas Luthfi.

Dari Konflik ke Rekonsiliasi

Langkah unik lainnya adalah merangkul pihak-pihak yang sebelumnya terlibat dalam konflik. Sejumlah warga yang sempat menjadi bagian dari eskalasi justru diajak berperan aktif dalam program pencegahan narkoba.

Mereka bahkan diangkat sebagai Duta Anti Narkoba tingkat lokal, sebagai bagian dari strategi reintegrasi sosial.

"Ini adalah bentuk transformasi sosial, dari sumber konflik menjadi agen stabilitas," ujarnya.

Sebagai langkah berkelanjutan, Panipahan kini ditetapkan sebagai Kampung Tangguh Anti Narkoba. Program ini melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengawasan dan pencegahan peredaran narkotika.

Selain itu, melalui program Jelajah Riau Untuk Rakyat (JALUR), bantuan ekonomi juga diberikan kepada warga, seperti hibah mesin perahu bagi nelayan guna memperkuat mata pencaharian mereka.

"Pendekatan keamanan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Luthfi.

Menurut Luthfi, keberhasilan meredam konflik di Panipahan menunjukkan bahwa pendekatan humanis dan dialogis mampu menciptakan stabilitas yang lebih berkelanjutan.

"Keamanan modern tidak lagi hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang kepercayaan. Ketika masyarakat merasa didengar dan dilibatkan, potensi konflik bisa diredam sejak awal," pungkasnya.