Warga Tenayan Bertahan di Tengah Limbah PLTU: Dapur Tertimbun Abu, Air Sumur Kehitaman

Ilustrasi-PLTU3.jpg
Ilustrasi PLTU (ANTARA/Zabur Karuru/ama/12)

RIAU ONLINE, PEKANBARU — Aroma tumisan biasanya memenuhi dapur yang hangat, namun tidak bagi seorang ibu yang bermukim di kawasan sekitar PLTU Tenayan Raya, Pekanbaru. Ibu yang enggan disebutkan namanya itu kini harus beradu dengan debu pekat di dapur rumahnya. 

Sudah lebih dari setahun, sekat-sekat privasi di kediamannya di Jalan Badak Ujung, Kecamatan Tenayan Raya, runtuh. Dapur yang seharusnya menjadi tempat ia meramu gizi untuk keluarga kini mati, terkubur di bawah gundukan material keabu-abuan yang diduga kuat adalah sisa pembakaran batu bara.

Sebut saja namanya Wati. Ia terpaksa memasak di ruang tengah lantaran dapur sudah tidak bisa dipakai akibat tertimbun material itu.

Wati menjadi satu dari sejumlah warga di Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, yang mengaku terdampak limbah diduga dari pembangkit listrik itu.

Bagi perempuan yang sudah tiga tahun menetap di sana, rumah bukan lagi tempat berlindung yang utuh. Hujan bukan lagi berkah, melainkan petaka. Atap rumahnya yang bocor membiarkan air masuk hingga setinggi betis, memaksa anak-anaknya bahu-membahu membuang air keluar agar mereka memiliki sudut kering untuk sekadar memejamkan mata.

“Setelah surut, lantai dilap lagi. Kalau hujan, kami cari tempat yang tidak basah untuk tidur,” ujarnya.

Tak hanya itu, air sumur yang menjadi tumpuan hidup keluarganya kini berubah warna menjadi kehitaman, tercemar material yang diduga fly ash dan bottom ash (FABA). Dampaknya pun mulai menggerogoti kesehatan keluarga, bintik merah dan rasa gatal kini menghiasi kulit dua putri.

Bukan hanya manusia, alam di sekitarnya pun seolah ikut menyerah. Pohon-pohon kelapa sawit yang dahulu subur dan bisa dipanen, kini hanya tersisa batang-batang tak berbuah, seolah tercekik oleh timbunan abu. 

“Sebelum tertimbun abu, kelapa sawit masih bisa dipanen,” katanya.

Bahkan, tungku-tungku pembakaran dan mesin pencetak batu bata warga yang sudah mengepul sejak 1980-an, kini banyak yang padam, terkubur oleh longsoran abu.


Menurut seorang warga setempat, pihak PLTU sebelumnya melakukan pembuangan FABA sejak pagi hingga sore hari yang semula disebut sebagai "penimbunan lahan bekas galian". Namun, aktivitas itu dihentikan setelah longsoran abu merusak permukiman warga sekitar.

“Diberhentikan karena abunya longsor ke pemukiman, menimbun tungku dan tanaman,” ujarnya.

Menurut laporan media pada Mei 2025, material abu telah menimbun sebagian rumah warga, termasuk dapur dan sumur bor yang rusak total.

Namun hingga kini, PLTU Tenayan Raya seakan enggan menanggapi masalah ini. 

Meski begitu, PLTU Tenayan Raya justru tengah bersiap meraih predikat mentereng sebagai Kandidat Hijau periode 2024–2025 usai meraih peringkat dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) itu. Sebuah penghargaan bagi perusahaan yang dianggap ramah lingkungan dan harmonis dengan masyarakat sekitar.

Kepala Riset dan Pengembangan YLBHI-LBH Pekanbaru, Wilton Amos, memandang situasi ini sebagai luka yang nyata. Ia menyebut masyarakat di sekitar PLTU hingga kini masih terganggu oleh timbunan abu.

Tapi menurutnya, belum terlihat langkah pemulihan lingkungan secara menyeluruh.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan YLBHI-LBH Pekanbaru bersama Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB) terhadap sejumlah pembangkit listrik batu bara di Sumatera, termasuk PLTU Tenayan Raya ditemukan puluhan dugaan pelanggaran pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaporkan ke Kementerian Lingkungan Hidup, namun hingga kini hanya berujung pada keheningan.

Kementerian Lingkungan Hidup melalui Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Yulia Suryanti, menyatakan, perusahaan telah melalui evaluasi terhadap aspek pengendalian pencemaran air, udara, serta pengelolaan limbah. Namun, ia menegaskan bahwa status "Hijau" tersebut bisa dianulir jika terbukti ada konflik dengan warga

"Apabila terbukti terdapat konflik dengan warga, status calon kandidat Proper Hijau PLTU Tenayan Raya dapat dianulir," tegas Yulia Suryanti.

Tapi bagi Wati dan warga terdampak lainnya, janji regulasi itu terasa jauh di awan. Keinginannya sederhana, kembalinya martabat rumahnya agar ia tak perlu lagi memasak di ruang tamu, dan anak-anaknya tak perlu lagi menggaruk luka di kulit mereka.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PLTU Tenayan Raya masih bungkam. Di tengah diamnya pihak perusahaan, warga Tenayan Raya terus bertahan, hidup berdampingan dengan abu yang perlahan menimbun harapan mereka.