RIAU ONLINE, PEKANBARU — Umat Hindu di Provinsi Riau melaksanakan rangkaian upacara Tawur Kesanga di Pura Agung Jagatnatha, Rabu 18 Maret 2026 sore. Ritual ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi yang juga dilaksanakan serentak oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.
Pembimbing Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Mustakim, menjelaskan bahwa Tawur Kesanga memiliki makna penting dalam ajaran Hindu, yakni sebagai upaya menetralkan atau mengharmoniskan alam semesta.
“Tawur Kesanga secara harfiah berarti penetralan alam semesta. Kata ‘tawur’ berasal dari bahasa Kawi yang bermakna menetralkan, sedangkan ‘kesanga’ merujuk pada bulan kesembilan dalam kalender Saka,” ujar Mustakim.
Ia menjelaskan dalam ajaran Hindu, manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta. Alam semesta dikenal sebagai Buana Agung, sedangkan manusia disebut Buana Alit. Keduanya memiliki unsur yang sama dan saling berkaitan.
Menurutnya, alam semesta terdiri dari lima unsur utama, yaitu tanah (pertiwi), udara, air, api, dan eter atau ruang hampa. Unsur-unsur tersebut juga terdapat dalam tubuh manusia.
“Di alam semesta ada unsur tanah, di dalam tubuh manusia ada tulang dan daging. Unsur udara di alam semesta sejalan dengan napas dalam tubuh manusia. Air di alam semesta tercermin dalam darah dan cairan tubuh. Begitu juga unsur api yang menjadi sumber energi dan panas, serta unsur eter yang menggambarkan ruang hampa,” jelasnya.
Karena manusia dan alam memiliki keterkaitan tersebut, maka diperlukan upaya untuk menyeimbangkan energi yang ada, baik di alam semesta maupun dalam diri manusia.
Mustakim menjelaskan dalam diri manusia terdapat enam sifat negatif yang dikenal dalam ajaran Hindu sebagai Sad Ripu, yaitu nafsu atau keinginan yang tidak terkendali, kemarahan, keserakahan, kebingungan, kesombongan, dan iri hati.
Sifat-sifat negatif tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk ogoh-ogoh, yang biasanya diarak sebelum Nyepi.
“Ogoh-ogoh sebenarnya adalah simbol dari kekuatan-kekuatan negatif dalam diri manusia. Melalui ritual ini, kekuatan negatif tersebut dinetralkan, bahkan nantinya ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol pembersihan,” katanya.
Ia menambahkan ritual ini menjadi bagian penting sebelum umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni rangkaian tapa atau pengendalian diri yang dilaksanakan saat Hari Raya Nyepi.
Catur Brata Penyepian terdiri dari empat pantangan utama, yaitu tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), serta tidak bersenang-senang atau menikmati hiburan (amati lelanguan).
“Melalui Catur Brata Penyepian, umat Hindu melakukan perenungan dan pengendalian diri agar energi negatif dalam diri manusia dapat ditekan,” jelas Mustakim.
Ia juga menjelaskan prosesi arak-arakan ogoh-ogoh biasanya melewati sejumlah persimpangan jalan, seperti perempatan atau pertigaan. Dalam kepercayaan Hindu, tempat tersebut dianggap sebagai titik berkumpulnya berbagai energi, termasuk energi negatif.
“Di perempatan sering terjadi emosi atau konflik, misalnya saat orang saling marah di lampu merah. Oleh karena itu, di titik-titik tersebut dilakukan penetralan agar energi negatif tidak mempengaruhi manusia,” ujarnya.
Pada tahun ini, ogoh-ogoh yang diusung mengangkat tema Jagal Abirawa, yang terinspirasi dari tokoh pewayangan Bima. Dalam kisah tersebut, Bima digambarkan sedang menghadapi sosok jahat bernama Hidimba yang melambangkan kekuatan adharma atau kejahatan.
Melalui rangkaian ritual ini, umat Hindu berharap tercipta keseimbangan antara manusia dan alam semesta sekaligus menyambut Hari Raya Nyepi dengan hati yang bersih dan penuh kedamaian.

