RIAU ONLINE, PEKANBARU - Suasana hangat dan penuh antusiasme menyelimuti Gedung Gramedia saat digelar Book Talk dan Meet The Author bersama penulis Rintik Sedu dalam rangka tur buku terbarunya, Musim yang Tak Sempat Kita Miliki, Sabtu, 14 Februari 2025.
Kehadiran penulis bernama asli Nadhifa Allya Tsana ini menjadi momen spesial bagi para pembaca di Kota Bertuah.
Pekanbaru menjadi kota keempat dalam rangkaian tur setelah Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, sekaligus kunjungan perdananya untuk agenda tur buku di kota ini.
Tsana yang lebih dikenal dengan nama pena Rintik Sedu, mengungkapkan kebahagiaannya bisa berbagi cerita secara langsung dengan pembaca Pekanbaru.
Tsana menyebut respons yang diterimanya di setiap kota terasa seperti “melepas rindu”.
"Rasanya seperti melepas rindu. Ketemu langsung dengan pembaca itu selalu punya energi yang berbeda," ujarnya di hadapan ratusan penggemarnya.
Dalam sesi diskusi, Rintik Sedu banyak berbagi tentang proses kreatif di balik novel ke-11 berjudul Musim yang Tak Sempat Kita Miliki.
Tsana menyebut buku ini lahir dari keresahan yang dekat dengan kehidupan banyak orang, khususnya generasi muda, yakni tentang fenomena “back burner” atau menjadi pilihan kedua dalam hubungan percintaan.
"Di buku ini aku membahas isu yang cukup dekat dengan pembaca dan audiensku, tentang back burner, second choice, atau opsi kedua dalam percintaan. Istilah ini cukup menjadi keresahan dan sering kita lihat di media sosial," jelasnya.
Menurutnya, hampir setiap orang pernah berada di posisi tersebut menjadi sosok yang tidak dipilih sepenuhnya atau hanya hadir sebagai cadangan perasaan. Namun, pengalaman itu sering dianggap tidak layak untuk dirayakan atau bahkan diceritakan.
"Biasanya orang yang bertepuk sebelah tangan itu merasa dirinya tidak pantas diceritakan atau dijadikan buku karena merasa seperti tidak memulai apa-apa. Padahal itu adalah perasaan yang nyata," katanya.
Melalui karakter utama bernama Rani, seorang editor buku yang akhirnya mendapat kesempatan menulis Rintik Sedu ingin merayakan mereka yang pernah menjadi second choice. Dalam proses menulis, Rani justru dihadapkan kembali pada masa lalu yang belum selesai.
"Lewat karakter Rani, aku ingin merayakan orang-orang yang pernah menjadi second choice atau back burner. Bahwa itu adalah perasaan kamu dan tidak apa-apa untuk dirayakan," jelasnya.
Tsana menambahkan, perjalanan Rani menulis buku menjadi simbol bagaimana seseorang perlu menuntaskan masa lalu yang belum selesai agar bisa melangkah ke depan dengan lebih utuh.
Tak hanya mengangkat tema cinta bertepuk sebelah tangan, novel ini juga menghadirkan unsur unik yang belum pernah ia eksplorasi sebelumnya, yakni tentang parfum. Dalam cerita, parfum menjadi elemen penting yang menyimpan kenangan bagi tokoh utama.
"Di buku ini aku juga membahas soal parfum. Rani merasa banyak kenangan tersimpan dalam sebuah parfum. Aku ingin ada kaitan dengan parfum karena itu belum pernah ada di buku-buku sebelumnya," terang wanita berparas cantik itu.
Inspirasi cerita, lanjut Tsana, banyak datang dari kegelisahan pembaca yang sering berbagi kisah dengannya. Ia kemudian meramu berbagai pengalaman itu menjadi karakter yang utuh dalam diri Rani.
"Aku terinspirasi dari kegelisahan mereka. Lalu aku membuat karakteristik dari masukan-masukan itu dan menempatkannya dalam diri Rani," katanya.
Proses penulisan buku ini memakan waktu sekitar satu setengah tahun. Ia menyebut masa tersebut sebagai perjalanan yang menyenangkan sekaligus menantang.
"Total pengerjaan sekitar satu tahun setengah. Menyenangkan, karena aku jadi lebih sering berdiskusi dengan editor dan penerbit. Ternyata penulis dan penerbit itu sama-sama sulit dan sibuknya," ucapnya sambil tersenyum.
Menariknya, dalam novel ini Rintik Sedu menggunakan sudut pandang orang ketiga, berbeda dari sejumlah karya sebelumnya yang identik dengan sudut pandang personal dan emosional.
"Di buku ini aku pakai sudut pandang orang ketiga. Aku ingin membuka bahwa setiap karakter punya alasan. Aku ingin membawa pembaca melihat semuanya dengan lebih luas," jelasnya.
Tsana juga mengungkapkan bahwa target pembacanya kini semakin beragam. Jika sebelumnya identik dengan pembaca perempuan, kini semakin banyak pembaca laki-laki yang hadir dan terlibat dalam diskusi.
"Setelah bertemu langsung, ternyata cowok juga banyak yang baca. Itu menyenangkan sekali," katanya.
Tur buku Musim yang Tak Sempat Kita Miliki masih akan berlanjut ke dua kota lainnya.
Namun bagi para pembaca di Pekanbaru, pertemuan ini menjadi momen istimewa, ruang berbagi cerita, proses kreatif, sekaligus validasi bahwa menjadi “pilihan kedua” bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan bisa dirayakan sebagai bagian dari perjalanan menjadi manusia yang utuh.

