Hujan Equatorial Picu Dua Kali Musim Kemarau di Riau Tahun Ini, Apa Itu?

Ilustrasi-kemarau.jpg
Ilustrasi cuaca panas. (Foto: Shutter Stock via kumparan)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Provinsi Riau saat ini mulai memasuki musim kemarau periode pertama berdasarkan pola iklim normal tahunan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mengingatkan bahwa kondisi ini perlu diwaspadai mengingat berisiko meningkatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.

Forecaster BMKG Pekanbaru, Bibin S, menjelaskan dua musim kemarau dan dua musim hujan dalam satu tahun menandai bahwa Riau memiliki tipe hujan equatorial.

"Normalnya kemarau pertama terjadi pada Februari hingga pertengahan Maret, sedangkan kemarau kedua terjadi pada Juni hingga September,” ujar Bibin, Sabtu, 7 Februari 2026.

Di antara periode kemarau tersebut, kata Bibin, terdapat dua musim hujan yang diprediksi akan terjadi pada pertengahan Maret hingga Mei dan Oktober hingga Januari.

Berdasarkan pola tersebut, BMKG memprakirakan periode kemarau pertama terjadi pada awal Februari, meski hujan ringan masih mengguyur secara lokal.


Menurut Bibin, kewaspadaan terhadap potensi karhutla perlu ditingkatkan eiring mulai berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah. Terutama, daerah rawan kebakaran.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD) Riau juga mulai memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota sebagai langkah antisipasi menghadapi periode kemarau tahun ini.

Kepala BPBD Damkar Riau, M Edy Afrizal, mengatakan pihaknya akan menggelar rapat koordinasi dengan daerah untuk membahas kesiapan penanganan karhutla, termasuk kemungkinan penetapan status siaga darurat di wilayah yang membutuhkan.

"Kami akan segera mengumpulkan BPBD kabupaten/kota untuk koordinasi penanganan karhutla," jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. "Jangan membuka lahan dengan cara membakar," tegasnya.