RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pemandangan kontras sedang mewarnai wajah keamanan di Bumi Lancang Kuning. Di saat, debu-debu di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Riau, Kecamatan Tambang, Kampar, masih mengepul akibat derap langkah 464 personel yang baru saja dilatih menjadi tim elit "Riau Anti Geng dan Anarkisme" (RAGA), warga Kota Pekanbaru justru masih harus mengelus dada melihat aksi kriminalitas jalanan yang seolah tak ada habisnya.
Senin, 2 Februari 2026, Wakapolda Riau, Brigjen Pol Hengki Haryadi, dengan penuh wibawa meresmikan tim ini. Pesannya tegas, Tim RAGA tidak menunggu kejadian, melainkan hadir lebih awal untuk mencegah. Sebuah pernyataan yang terdengar sangat heroik, seandainya saja fakta di lapangan tidak berbanding terbalik.
Ironisnya, Kota Pekanbaru justru tampak seperti wilayah tanpa hukum. Sementara polisi sibuk menyiapkan seremoni, kejahatan jalanan berpesta pora.
Patroli malam yang mengerahkan tim elit yang dibangun untuk memberantas kejahatan di Kota Bertuah, seperti tak menciutkan nyali para pelaku begal.
Di tengah klaim patroli yang intens pada 1 Februari 2026 itu, sekelompok orang tak dikenal diduga menganiaya warga di dalam sunyi malam.
Tim RAGA mungkin sedang sibuk berpatroli di satu sisi, sementara di sisi lain, maling motor bekerja dengan tenang tanpa perlu khawatir terkena razia.
Janji Brigjen Hengki bahwa tim ini hadir di "titik-titik berpotensi gangguan" terasa seperti satire pahit bagi warga Pekanbaru yang merasa patroli kepolisian hanyalah mitos di jam-jam rawan.
Publik tidak buta. Unggahan di Facebook RIAU ONLINE pada Senin kemarin, pun dibanjiri komentar pedas warganet yang menilai Tim RAGA lebih mirip tim fotografi daripada unit pemberantas kejahatan.
"Jika oprasi nya hanya untuk ngambil foto laporan ke pimpinan, percuma gelar oprasi, dan fakta nya keamanan belum dapat teratasi," ujar Jul****
Strategi pengerahan pasukan pun tak luput dari sindiran. Akun On*** menulis, "Gelar operasi itu di pencar jadikan 3 sampai 5 group, bukan numpuk jadi 1 group," lengkap dengan emot tertawa, menyiratkan betapa tidak efektifnya pola patroli yang ada.
Kekesalan warga bahkan mulai menjurus pada ancaman main hakim sendiri akibat ketidakpercayaan pada sistem.
"begini aja kalau polisi tidak sanggup nangani jambret dan sebagainya serah kan aja ke masyarakat, biar rakyat yg menghukumnya, percuma juga jadi penegak hukum kalau tidak tau hukum, hukum negara hanya melihat siapa yg babak belur dialah korban, negara macam apa kayak gini," timpa Chi***
Sentimen "Omon-omon" atau sekadar bicara pun mencuat, menyindir klaim Kapolresta Pekanbaru. "Tapi kata pak Edi Natar Kapolresta sigap dan cermat terhadap gangguan keselamatan masyarakat, tapi nyatanya hanya omon omon omon," sindir Ali***.
Bahkan, ada yang menuding Tim RAGA tidak bekerja di waktu yang tepat. "Malamnya operasi, siangnya mereka tidur. Maka nya jambret banyak kejadian siang hari sekarang, " kata Lili****.
Pelatihan ratusan personel dengan nama mentereng Tim RAGA, seharusnya menjadi kabar buruk bagi pelaku kriminal. Namun, melihat rentetan kejadian sejak awal tahun ini, para pelaku kejahatan seakan lebih "terlatih" dan sigap dalam memanfaatkan celah koordinasi aparat yang dinilai lebih fokus pada laporan dokumentasi ketimbang aksi nyata.
Tim RAGA kini punya beban berat, membuktikan bahwa singkatan nama mereka menjadi pelindung masyarakat yang benar-benar ada saat dibutuhkan, bukan hanya saat kamera menyala.

