Viral di Medsos Kronologi Pengeroyokan Brutal di Pekanbaru, Firman Tewas Usai Sepekan

Pemukulan3.jpg
Ilustrasi pemukulan/Shuttersock (Shutterstock)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Duka mendalam menyelimuti keluarga dan rekan-rekan Firman (F), pemuda yang meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sekelompok orang tak dikenal di Kota Pekanbaru.

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Minggu dini hari, 11 Januari 2026, di sekitar kawasan Jalan Arifin Achmad, salah satu ruas jalan utama yang dikenal ramai dan dipenuhi fasilitas umum.

Peristiwa ini juga menggemparkan jagat maya. Akun Instagram @platypus.432351 turut menyampaikan kronologi kejadian berdasarkan saksi dan keterangan rekan-rekan korban di lokasi kejadian.

Menurut keterangannya, kejadian bermula saat Firman bersama sejumlah temannya berkendara motor untuk sekadar jalan-jalan malam, aktivitas yang mereka sebut sebagai “cari angin”, layaknya kebiasaan anak muda pada umumnya.

Saat melintas di Jalan Arifin Achmad, salah satu dari mereka merasa ingin ke toilet. Rombongan pun memutuskan singgah di sebuah toko ritel terdekat, sembari menunggu temannya.

Dalam kondisi santai, beberapa di antaranya duduk di luar toko sambil merokok. Namun suasana berubah mencekam ketika tiba-tiba lebih dari 20 sepeda motor mendatangi lokasi tersebut.

Tanpa peringatan, rombongan bermotor itu langsung melakukan penyerangan. Para pelaku melempari korban dengan batu, balok kayu, serta memukul menggunakan double stick.

Serangan berlangsung cepat dan brutal, membuat para korban panik dan tidak sempat melakukan perlawanan.

Dalam kondisi ketakutan dan kebingungan, para korban berusaha menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke berbagai arah. Mereka tercerai-berai tanpa sempat memastikan kondisi satu sama lain.


Sebagian dari mereka kemudian kembali berkumpul di sebuah kedai yang biasa menjadi tempat nongkrong.

Saat itu, mereka mengira Firman bersama dua rekannya, R dan V, telah pulang ke rumah karena sebelumnya ketiganya berboncengan dalam satu sepeda motor akibat keterbatasan kendaraan.

Namun dugaan tersebut ternyata keliru. Kabar mengejutkan diterima oleh rekan-rekan korban. Firman bersama R dan V mengalami kecelakaan lalu lintas.

Diduga kuat, mereka masih dikejar oleh kelompok pelaku pengeroyokan, sehingga kehilangan kendali dan menabrak tiang listrik.

Dalam peristiwa itu, V yang mengendarai motor dan Firman yang berada di posisi tengah dilaporkan tidak sadarkan diri. Sementara R yang duduk di bagian belakang dalam kondisi setengah sadar.

Rekan-rekan mereka segera membawa korban ke rumah sakit terdekat. Namun upaya tersebut menemui hambatan.

Menurut saksi, penanganan medis di rumah sakit awal berlangsung lambat dan bahkan sempat ditolak dengan berbagai alasan. Karena panik dan kondisi korban semakin memburuk, mereka akhirnya membawa Firman dan dua rekannya ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.

Di rumah sakit tersebut, korban akhirnya mendapat penanganan medis secara intensif. Nahas, setelah berjuang selama hampir sepekan, Firman mengembuskan napas terakhirnya.

Selain luka fisik, dalam insiden tersebut juga dilaporkan handphone dan helm korban hilang, memperkuat dugaan adanya unsur tindak kriminal berupa pengeroyokan dan perampasan.

Hingga 17 Januari 2026, atau enam hari setelah kejadian, keluarga dan rekan-rekan korban menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap aparat penegak hukum. Mereka menilai polisi belum mengusut tuntas kasus tersebut.

Pihak korban menyesalkan alasan tidak adanya CCTV sebagai hambatan penyelidikan, mengingat kawasan Jalan Arifin Achmad dikenal memiliki banyak kamera pengawas di sekitar minimarket dan fasilitas umum.

"Kami sudah melapor ke polisi, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. Padahal CCTV di sekitar lokasi banyak. Kami merasa keadilan untuk Firman diabaikan," sebut unggahan tersebut.

Keluarga dan sahabat Firman berharap aparat kepolisian dapat bertindak profesional, transparan, dan serius dalam mengungkap kasus ini. Mereka mendesak agar pelaku pengeroyokan segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.