RIAU ONLINE, PEKANBARU - Rasa aman warga Kota Pekanbaru kembali dipertanyakan. Maraknya aksi kejahatan jalanan yang terjadi hampir di berbagai sudut kota dalam beberapa waktu terakhir membuat masyarakat diliputi kekhawatiran, bahkan ketakutan, saat beraktivitas di ruang publik.
Kondisi ini dinilai berbanding terbalik dengan pernyataan tegas Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, saat peluncuran Tim RAGA, Rabu, 14 Mei 2025. Saat itu, Kapolda menegaskan bahwa keberhasilan kepolisian diukur dari rasa aman masyarakat.
“Jika satu saja warga Pekanbaru merasa tidak aman, maka kami gagal,” tegas Irjen Pol Herry Heryawan dalam pernyataannya saat peluncuran Tim RAGA.
Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sejumlah warga Pekanbaru kini justru merasa tidak aman akibat maraknya aksi kejahatan jalanan, khususnya penjambretan dan pembegalan, yang terjadi secara beruntun dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga hingga anak-anak.
Jambret Emas di Jalan Delima
Salah satu kejadian terbaru terjadi di Jalan Delima, tepatnya di samping RR Cafe. Seorang wanita menjadi korban penjambretan gelang emas oleh dua orang tak dikenal (OTK) yang mengendarai sepeda motor Yamaha NMAX.
Pelaku dengan cepat merampas perhiasan korban dan langsung tancap gas meninggalkan lokasi kejadian. Aksi tersebut menambah panjang daftar kejahatan jalanan yang meresahkan warga.
Ibu Rumah Tangga Dibegal Saat Subuh
Sebelumnya, seorang ibu rumah tangga menjadi korban begal di Jalan Dr. Susilo, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru, pada Jumat, 9 Januari 2026 sekitar pukul 05.20 WIB.
Korban dihadang oleh dua pelaku tak dikenal yang kemudian merampas kendaraan miliknya. Peristiwa tersebut terjadi saat kondisi jalan masih sepi, menambah rasa takut warga untuk keluar rumah pada jam-jam rawan.
Anak Kecil Jadi Sasaran Jambret
Aksi kejahatan semakin memprihatinkan ketika pelaku penjambretan tak segan menyasar korban anak-anak. Peristiwa ini terjadi pada Rabu malam, 7 Januari 2026, sekitar pukul 21.44 WIB, di Jalan Melati Indah, Kecamatan Binawidya, Pekanbaru.
Saat kejadian, korban yang masih berusia anak-anak tengah asyik bermain handphone di depan rumahnya. Dua pelaku yang mengendarai sepeda motor mendekat dan salah satu pelaku berpura-pura bertanya untuk mengelabui korban.
Tanpa diduga, pelaku langsung merampas handphone yang sedang dipegang korban dan melarikan diri.Aksi tersebut membuat korban panik dan berteriak meminta pertolongan.
Meski sempat mencoba mengejar, pelaku berhasil kabur. Kejadian ini terekam jelas oleh kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi.
Ibu Muda Terjatuh Usai Dipepet Pelaku
Kejadian lain yang tak kalah memprihatinkan terjadi di Jalan Bakti, Arifin Achmad. Seorang ibu muda menjadi korban jambret dan terjatuh dari sepeda motor setelah dipepet oleh pelaku.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Syafira untuk mendapatkan perawatan medis. Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 9 Januari 2026.
Warga Pertanyakan Kinerja Aparat
Rentetan kejadian ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Jika berpedoman pada pernyataan Kapolda Riau sendiri, maka kondisi saat ini menjadi ujian serius bagi jajaran kepolisian.
Banyak warga menilai, rasa aman yang dijanjikan belum benar-benar dirasakan.
Bahkan, muncul sindiran di tengah masyarakat yang menyebut bahwa melapor ke petugas pemadam kebakaran (damkar) atau pihak lain justru dianggap lebih responsif dibanding aparat penegak hukum.
Situasi ini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap pola patroli, kehadiran polisi di titik-titik rawan, serta respons cepat terhadap laporan masyarakat. Sebab, rasa aman bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendasar warga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana Kapolda Riau pernah menegaskan bahwa keamanan warga menjadi tolak ukur keberhasilan Tim RAGA.
“Jika satu saja warga Pekanbaru merasa tidak aman, maka kami gagal.”
Kini, pernyataan tersebut menjadi sorotan publik dan tolok ukur nyata atas kondisi keamanan Kota Pekanbaru hari ini.
Berikut Fungsi Tim RAGA yang diresmikan Tahun 2025
Tim RAGA, sebuah tim khusus yang dibentuk sebagai bagian dari strategi Polda Riau dalam menekan angka kriminalitas dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri.
"Tim ini kami beri nama RAGA, yang secara filosofis berarti jiwa – jiwa yang tertanam dalam diri setiap anggota Polri di Polda Riau untuk melayani masyarakat," jelasnya.
Akpol 1996 itu menyebutkan, RAGA merupakan akronim dari empat karakter utama yang harus dimiliki setiap anggota tim: Responsif, Aktif, Gesit, dan Adil.
"R, Responsif artinya kita harus cepat tanggap terhadap laporan masyarakat, baik yang datang langsung maupun melalui media sosial. Setiap detik dalam laporan kejahatan bisa menjadi waktu yang menyelamatkan," tambahnya.
Selanjutnya, Herry menjelaskan bahwa “A” dalam RAGA berarti Aktif. Polisi tidak boleh pasif dalam menghadapi dinamika sosial dan kriminalitas yang terjadi di masyarakat.
"G untuk Gesit, karena kecepatan dan ketepatan dalam bertindak adalah kunci. A terakhir adalah Adil, artinya kita harus bisa bersikap netral dan memperlakukan semua masyarakat secara setara tanpa diskriminasi,” tegas Herry.

