TOBAT, Inovasi Sederhana Lapas Narkotika Rumbai yang Berdampak Besar

TOBAT-Inovasi-Sederhana-Lapas-Narkotika-Rumbai-yang-Berdampak-Besar.jpg
Tombol TOBAT di Lapas Narkotika Kelas IIB Rumbai (Defri Candra/Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Di tengah persoalan klasik overkapasitas yang masih menjadi tantangan serius di berbagai lembaga pemasyarakatan di Indonesia, Lapas Narkotika Kelas IIB Rumbai menghadirkan terobosan inovatif dalam sistem pengamanan. 

Melalui pemanfaatan teknologi sederhana bertajuk Tombol Bantuan Darurat (TOBAT), lapas ini berhasil memperkuat keamanan sekaligus meningkatkan kecepatan respons petugas terhadap situasi darurat.

Inovasi TOBAT digagas oleh Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KA PLP) Lapas Narkotika Kelas IIB Rumbai, Ridho Kurniawan, sebagai bagian dari Implementasi Aksi Perubahan. 

Program ini juga menjadi bentuk konkret dukungan terhadap 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam percepatan transformasi kinerja serta peningkatan kualitas layanan publik di lingkungan pemasyarakatan.

Ridho Kurniawan menjelaskan, lahirnya TOBAT berangkat dari hasil diagnosa organisasi yang dilakukan secara menyeluruh. 

Kondisi tingkat hunian Lapas Narkotika Kelas IIB Rumbai yang mencapai lebih dari 300 persen dinilai berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban apabila tidak diantisipasi dengan langkah strategis.

"Overkapasitas bukan hanya persoalan ruang, tetapi juga soal keamanan dan keselamatan. Dengan jumlah warga binaan yang jauh melebihi kapasitas ideal, dibutuhkan solusi cepat, tepat, dan realistis," ujar Ridho, Sabtu, 13 Desember 2025.


Ridho menegaskan bahwa penambahan jumlah personel bukanlah solusi instan, mengingat keterbatasan anggaran dan kebutuhan waktu yang panjang. 

Oleh karena itu, pihaknya memilih pendekatan inovasi berbasis teknologi sederhana yang efektif dan mudah diimplementasikan.

"Alih-alih mengandalkan penambahan personel yang membutuhkan biaya besar dan tidak selalu memungkinkan, kami memilih inovasi sederhana, murah, namun berdampak besar. TOBAT adalah jawaban atas kebutuhan tersebut," jelasnya.

TOBAT dirancang sebagai sistem deteksi dini dan mitigasi risiko gangguan keamanan di dalam kamar hunian. 

Dengan sistem ini, warga binaan pemasyarakatan (WBP) dapat langsung melaporkan kondisi darurat hanya dengan menekan tombol yang telah terpasang.

"Ini bukan sekadar memasang tombol. TOBAT adalah wujud komitmen integritas kami. Kami tidak ingin lagi terjadi keterlambatan respons petugas ketika ada kondisi darurat. Sistem ini memastikan setiap kejadian dapat ditangani secara cepat dan terukur," tegas Ridho.

Lebih lanjut, Ridho mengungkapkan bahwa ketika tombol ditekan, petugas di pos penjagaan langsung menerima informasi lokasi dan kondisi melalui layar monitor yang terintegrasi.

"Lupakan cara lama. Sekarang, jika terjadi insiden, WBP cukup menekan Tombol Bantuan Darurat. Petugas langsung mengetahui titik kejadian dan dapat segera bergerak ke lokasi," tegasnya.

Penerapan TOBAT dinilai mampu meningkatkan efektivitas pengawasan, mempercepat respons petugas, serta menekan potensi gangguan keamanan dan ketertiban di tengah kondisi overkapasitas. 

Selain itu, inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya peningkatan akuntabilitas kinerja dan perlindungan keselamatan warga binaan.

Melalui terobosan ini, Lapas Narkotika Kelas IIB Rumbai menegaskan kesiapannya menjadi role model bagi unit pelaksana teknis pemasyarakatan lainnya. 

Inovasi TOBAT membuktikan bahwa transformasi birokrasi dan penguatan sistem keamanan tidak selalu harus berbasis teknologi mahal, melainkan dapat diwujudkan melalui gagasan cerdas yang menjawab kebutuhan nyata di lapangan.