Pemerintah Tak Kunjung Normalisasi Saluran Irigasi, Petani Bungaraya Bertindak Mandiri

Normalisasi-Tak-Kunjung-Dilakukan-Petani-Bungaraya-Bertindak-Mandiri.jpg
Penggalian saluran air tersier di sawah Kampung Kemuning Muda, Kecamatan Bungaraya, Siak, Riau. (Hendra Dedafta/Riau Online)

RIAU ONLINE, SIAK – Keluhan kekeringan di areal persawahan Bungaraya kembali mencuat. Hingga kini normalisasi saluran tersier dari pemerintah tak kunjung dilakukan sehingga membuat para petani terpaksa mengambil langkah mandiri patungan menyewa alat berat mini.

Di Kecamatan Bungaraya enam petani rela iuran menyewa alat berat mini untuk menggali ulang saluran tersier yang sudah lama dangkal dan tidak mampu lagi mengalirkan air dari saluran primer. 

Samin (79), salah satu petani yang ikut bergotong royong, mengaku tidak sabar lagi menunggu penggalian kanal dari pemerintah. Sebab musim kemarau akhir 2025 membuat padi mereka mengering dan terancam gagal panen.

“Kanal ini terakhir digali sudah lama sekali. Sekarang sudah dangkal, air dari saluran besar tak bisa masuk. Kalau menunggu pemerintah menggali, entah kapan datangnya,” ujarnya pada Minggu, 30 November 2025.

Dengan kondisi padi yang mulai menguning karena kekurangan air, para petani sepakat mengumpulkan dana untuk menyewa alat berat. Total biaya penggalian saluran sepanjang 400 meter mencapai Rp5,2 juta, dan dibagi rata oleh enam pemilik sawah yang berdampingan.

“Daripada padi mati, kami ambil inisiatif sendiri. Yang penting air bisa masuk lagi,” tambah Samin.

Ia menyebutkan, mereka bukan satu-satunya yang melakukan langkah mandiri ini. Beberapa petani lain di wilayah tersebut juga sudah iuran untuk menggali saluran air secara swadaya.

“Enggak cuma kami, yang lain juga ada. Bahkan besok di bagian atas mau gali lagi pakai alat ini,” katanya.


Kondisi makin sulit karena pompanisasi tahap satu yang seharusnya membantu aliran air juga tidak berfungsi dalam beberapa minggu terakhir.

“Kita ada pompa, cuma beberapa minggu ini enggak hidup, mungkin rusak,” jelas Samin.

Terpisah, Bupati Siak Afni Zulkifli menegaskan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah cepat sekaligus strategi jangka panjang untuk memastikan kebutuhan air bagi lahan pertanian terpenuhi.

Afni mengatakan, pemerintah sebenarnya memiliki alat berat untuk melakukan normalisasi, bahkan baru saja mendapatkan dukungan tambahan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera III. Namun persoalan di lapangan bukan hanya soal alat.

“Kalau alat kita sudah ada. Tadi kami dari BWS Sumatera III dapat pinjaman alat. Di kita juga ada alat berat. Masalahnya tinggal pada dana minyak, operator, dan lain-lain. Tapi masalah utamanya sekarang adalah sumber air,” ujar Afni.

Ia menjelaskan, peluang bantuan dari BWSS III sangat membantu pemerintah daerah dalam menyiapkan suplai air bagi petani, khususnya di wilayah yang rawan kekeringan.

Bupati merinci sejumlah langkah darurat yang segera dijalankan untuk merespons kondisi kekeringan yang dialami petani. Pembangunan Sumur Air Tanah untuk Irigasi Siak tahun ini dapat bantuan terbanyak. Lokasinya di Sabak Auh, Pusako, dan Sungai Apit. Total ada 23 titik. 

"Sumur air tanah tersebut akan menjadi sumber air tambahan yang dialirkan ke jaringan irigasi," paparnya.

Pemerintah akan mengerahkan alat berat untuk mengatasi pendangkalan di sejumlah saluran tersier agar air dapat kembali mengalir ke lahan persawahan.

Selain upaya darurat, Afni menegaskan perlunya solusi permanen untuk menjamin ketahanan air bagi pertanian Siak. Pemerintah kabupaten saat ini tengah mengajukan pembangunan waduk atau long storage.

“Pembangunan waduk seluas lebih kurang 100 hektare sangat kita butuhkan. Tapi ini perlu dukungan kementerian untuk pelepasan kawasan, karena menjadi bagian dari ketahanan pangan,” kata Afni.

Bupati berharap kolaborasi pemerintah pusat, daerah, dan BWS dapat mempercepat penanganan krisis air agar petani tidak terus menerus mengalami ancaman gagal panen setiap musim kemarau.