RIAU ONLINE, PEKANBARU – Hendri, kontraktor yang sempat viral usai membongkar drainase di Jalan Hasan Basri, Kecamatan Sail, Pekanbaru, pada Senin 17 November 2025 akhirnya buka suara terkait aksinya yang menuai perhatian publik.
Ia mengaku terpaksa melakukan tindakan tersebut karena pembayaran proyek yang dikerjakannya sejak tahun 2024 belum juga diterima.
Hendri menjelaskan ia mulai mengerjakan proyek drainase sejak 2024. Total terdapat empat paket pengerjaan, dua dikerjakan olehnya dan dua lainnya oleh anaknya.
“Saya kerja dari tahun 2024, pengerjaan drainase dua paket dan dua paket lagi dengan anak saya,” ujarnya.
Menurutnya, pengajuan pembayaran sudah dilakukan pada 2024. Namun proses pencairan tertunda setelah muncul persoalan di internal Pemerintah Kota Pekanbaru, termasuk penangkapan Penjabat (Pj) Wali Kota Pekanbaru saat itu, Risnandar Mahiwa, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Akhir tahun 2024 sudah kita ajukan pembayaran. Tapi karena ada masalah di Pemko Pekanbaru dengan ditangkapnya Pj Wali Kota oleh KPK, jadi barang itu tunda bayar,” jelasnya.
Hendri menuturkan, Pemko awalnya menjanjikan pembayaran pada 2025. Namun hingga memasuki November, ia belum menerima kepastian.
“Setelah saya tunggu sampai bulan November ini, Pemko Pekanbaru belum ada mengatakan tunda bayar 2024 akan dibayarkan,” ungkapnya.
Ketidakpastian itulah yang membuat Hendri khawatir. Ia mengaku takut pembayaran kembali ditunda hingga 2026, sementara pekerjaan sudah selesai.
“Saya takut, karena kerja sudah selesai. Takutnya tunda bayar lagi sampai 2026. Bagaimana saya untuk hidup sehari-hari,” keluhnya.
Total nilai empat paket pekerjaan tersebut mencapai hampir Rp800 juta. Hendri menyampaikan dirinya telah mencapai kesepakatan dengan Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Kepala Dinas Perkim, Martin Manulok, yang menjanjikan seluruh pembayaran akan segera diselesaikan.
“Kita sudah sepakat melalui Kadis Perkim akan dibayarkan semuanya,” tegasnya.
Ia menambahkan pengerjaan proyek dilakukan menggunakan modal pribadi, bukan dana pemerintah. Karena itu, keterlambatan pembayaran sangat mempengaruhi kondisi keuangannya.
“Kita kerja bukan pakai uang negara, pakai uang pribadi,” tegas Hendri.
Aksi pembongkaran yang dilakukan Hendri sebelumnya menuai kritik lantaran merusak fasilitas umum dan mengganggu akses warga. Namun setelah adanya kesepakatan pembayaran, ia telah kembali memperbaiki drainase tersebut.

