Anak-Anak dari Ujung Rimba: Saat Dunia Digital Menyapa Suku Sakai

anak-sakai3.jpg
Ilustrasi Anak-anak Suku Sakai (Ilustrasi AI)

RIAU ONLINE, BENGKALIS - Pagi itu, kabut masih menggantung di atas rimba Minas. Di pinggiran Sungai Mandau, tawa anak-anak Suku Sakai terdengar riuh. Mereka berlari tanpa alas kaki, meniti batang kayu di tepi ladang, sebelum satu per satu berhent untuk menatap ponsel usang di tangan Amar Mubarak (12) yang baru saja menyala setelah sinyal muncul sekilas.

"Ada internet!" seru Amar, disambut sorak kawan-kawannya. Dalam hitungan menit, mereka berkumpul di satu titik, menonton video lagu anak yang sudah tersimpan sejak lama. Di kampung yang sinyalnya hanya datang bila cuaca cerah, dunia digital hadir seperti tamu yang jarang mampir. Menyenangkan, tapi misterius.

Dunia yang Perlahan Terbuka

Anak-anak Komunitas adat Suku Sakai Bathin Sobanga terutama berada di Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau tumbuh di antara pohon-pohon sialang dan sungai berair keruh yang dulunya jadi urat nadi kehidupan. Kini, di beberapa kampung, menara telekomunikasi berdiri di kejauhan, membawa sinyal lemah yang menghubungkan rimba dengan dunia luar.

Bagi Amar dan kawan-kawan, internet bukan sekadar hiburan. "Aku suka lihat video iklan seperti film pendek," ujarnya malu-malu. Ia belajar menirukan gaya berbicara dan adegan yang ia tonton, lalu membacakannya kembali di depan teman-teman sepantarannya saat bermain di hari libur atau jam pulang sekolah. "Kalau besar nanti, aku mau jadi sutradara dan bikin film," ucapnya dengan mantap.

Tapi bagi sebagian anak Sakai lain, dunia digital masih asing. Beberapa belum pernah memegang gawai sama sekali. Sementara yang sudah mengenal, sering tidak mengetahui cara menggunakannya dengan aman.

Di sinilah peran para orangtua dalam mengawal dan mengawasi anaknya menggunakan handphone. Para orangtua menyisihkan waktu di sela kesibukan bekerja demi belajar bersama anak mereka.

Seperti halnya ibu Amar, Rimbani (36). Setiap sore atau malam hari, perempuan asli Suku Sakai ini menemani anak pertamanya itu belajar atau menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) lewat handphone. Koleksi internet meski masih tersendat, tidak menyurutkan semangat ibu dan anak untuk berselancar di layar handphone.

"Tentu kita sebagai orang tua menemani anak, membuat tugas. Karena mereka masih SD juga harus kita awasi bermain handphone," kata Rimbani.

Mayoritas orang tua di Indonesia menyadari bahwa gawai dan internet kini bagian dari pendidikan modern. Namun mereka juga merasa cemas karena belum sepenuhnya paham cara mengarahkan anak menggunakan teknologi dengan sehat.

Survei Kementerian Kominfo (GNLD Siberkreasi, 2024) menyatakan bahwa 87% orang tua menganggap gawai membantu anak belajar, tapi 78% juga merasa anak terlalu lama di depan layar dan khawatir terhadap konten negatif.

"Kalau tidak pakai HP, anak susah belajar. Anak harus melek digital, tapi tetap didampingi," ujar Rimbani.

Demi mengawasi pemakaian handphone untuk anaknya, Rimbani mulai menerapkan aturan waktu layar, seperti, tidak membawa HP ke kamar tidur, waktu maksimal 2 jam sehari, hanya membuka aplikasi yang sudah disetujui.

Sebagian orang tua muda, ia mulai melihat bahwa teknologi bukan musuh, tapi habitat alami generasi baru. Rimbani menilai bahwa ada kemampuan berpikir kritis saat berselancar di internet.

Menjelajah Dunia Digital Tanpa Kehilangan Akar

Bagi keluarga adat Sakai yang hidup berdekatan dengan alam, dunia digital seolah dunia lain, tanpa pepatah, tanpa batas adat. Di sinilah muncul tantangan bagaimana mendampingi anak-anak agar tidak kehilangan akar sambil tetap bisa belajar dari layar kecil mereka.

Jeffry Basyir, seorang tokoh pemuda adat Sakai Bathin Sobanga menilai bahwa masyarakat adat kini sudah bisa menerima kehadiran internet. Masyarakat sendiri sangat berharap dan menanti akses internet yang merata. Apalagi ini keterkaitan dengan dunia pendidikan anak-anak.

"Sudah bisa menerima (internet), tapi penggunaan tidak seluas dan sebebas di perkotaan karena ada keterbatasan. Paling ya menggunakan handphone dan alat komunikasi lainnya itu terbatas, sebab keterlambatan jaringan juga  dan fasilitas belum semaju di kota," papar Jeffry.

Ia menjelaskan, saat menyelesaikan tugas dari sekolah, anak-anak didampingi orangtua mereka. Anak-anak tidak memegang handphone sendiri. Sementara anak sekolah tingkat SMA baru bisa memanfaatkan handphone mereka masing-masing.

anak sakaiIlustrasi Anak-Anak Suku Sakai. (Foto: Ilustrasi AI)

Internet masuk di kampung mereka belum lama ini. Namun baru ada kabel-kabel wifi, belum ada tower. Kondisi ini lantaran wilayah kampung yang aksesnya cukup jauh dari pusat kota.

"Lalu ada berbagai faktor lainnya juga. Masuknya internet baru sekitar beberapa bulan ini. Karena kita juga jauh jaraknya dari jaringan internet, masih minim. Sekarang kondisi pakai kabel wifi, tapi karena masih banyak hutan juga jaringan sering terputus," jelasnya.

Suku Sakai Bathin Sobanga memiliki hutan adat yang disebut Imbo Ayo. Luasnya sekitar 200-an hektare. Mereka telah berjuang agar hutan adat dan masyarakat hukum adat mereka diakui secara formal oleh pemerintah. SK Pengakuan Hutan Adat dan Masyarakat Hukum Adat untuk Imbo Ayo pernah diserahkan oleh Gubernur Riau. Hidup masyarakat masih banyak bergantung pada pertanian, peternakan, dan perikanan. Mereka juga memanfaatkan hutan adat secara lestari sebagai sumber penghidupan.

Untuk Bathin Sobanga, disebutkan sekitar 170 kepala keluarga dengan jumlah jiwa hampir 500 orang. Hampir semua adalah orang asli Sakai. Pelestarian budaya menjadi penting, termasuk melalui pembangunan rumah adat dan fasilitas budaya (sebagai tempat berkumpul, bercerita, penyimpanan benda pusaka) dan upaya dokumentasi sejarah, ikut serta mendukung pengakuan adat.

Sementara itu, tantangan terbesar pemerintah dalam menjembatani kesenjangan digital di daerah adat, salah satunya karena wilayah adat berada di daerah terpencil, hutan, atau perbukitan dengan akses transportasi sulit.

Kendala utama juga tidak dak adanya jaringan listrik stabil atau sumber daya energi. Jarak jauh dari infrastruktur backbone (serat optik atau menara BTS). Kemudian, biaya investasi tinggi dengan jumlah pengguna yang sedikit (secara ekonomi tidak menarik bagi operator).


Meski begitu, Jeffry menilai kehadiran internet di kampung adat adalah suatu hal positif yang layak diterima. Masyarakat ingin kehadiran internet bisa punya pengaruh terhadap budaya kearifan lokal.

"Saya menilai ini lebih banyak dampak positif apalagi berkaitan dengan dunia pendidikan. Anak-anak juga bisa mengenal budaya dari daerah lain, tinggal kita para orangtua dan guru mengawal mereka. Anak kampung kita masih tinggi rasa penasaran dan eksplorasi dunia digital," ujarnya. 

"Kami juga ingin menampilkan seni dan budaya kita lewat dunia digital. Kami tidak akan lari dari konsep dan nilai-nilai budaya kami. Budaya kita juga bisa terkenal lewat media sosial. Ada seni tari, kerajinan, dan banyak lagi," sambung Jeffry.

Nilai Adat dan Dunia Klik

Bagi pemuda adat seperti Jeffry, dunia digital tak perlu ditolak, tapi harus diisi dengan nilai-nilai lokal. Ia pernah melihat anak-anak menonton video ritual adat di YouTube, lalu mempraktikkannya di sekolah. "Itu bagus, artinya teknologi bisa bantu mereka belajar tentang budaya sendiri," ucapnya.

Kini, sebagian pemuda Sakai mulai membuat konten digital sederhana tentang hutan dan kehidupan adat, menggabungkan cerita lama dengan cara baru. Dunia digital menjadi alat pelestarian, bukan ancaman.

Salah satu budaya lokal Suku Sakai Bathin Sobanga di Riau, yaitu Tari Poang, sebuah tradisi khas yang mencerminkan jati diri dan filosofi kehidupan masyarakat adat Sakai.

Tari Poang merupakan salah satu warisan budaya yang hidup di kalangan Suku Sakai Bathin Sobanga, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Kata Poang dalam bahasa Sakai memiliki makna "syukuran" atau "ungkapan rasa terima kasih" kepada Sang Pencipta atas hasil bumi dan rezeki yang diterima.

anak sakai2Ilustrasi Anak Suku Sakai. (Foto: Ilustrasi AI)

Tarian ini sudah dikenal sejak generasi leluhur, dipentaskan dalam upacara adat seperti, penyambutan tamu kehormatan, upacara panen, kegiatan adat penyucian kampung (besale).

Maknanya bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai ekspresi spiritual dan sosial, wujud harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Gerakan dalam Tari Poang menggambarkan aktivitas sehari-hari masyarakat Sakai yang hidup berdampingan dengan alam. Ada makna, menebas hutan, menanam padi ladang, menumbuk padi, hingga menari gembira karena panen melimpah.

Ciri khas tarian ini memiliki gerakan berulang, dinamis, dan ritmis, menggambarkan kerja keras dan kebersamaan. Gerak tangan melingkar dan hentakan kaki melambangkan semangat gotong royong. Tari Poang diiringi oleh alat musik tradisional seperti, Gendang panjang, Kompang, Gong kecil, dan Serunai Sakai (alat tiup bambu).

Harapan di Tengah Ketimpangan

Di antara rimba yang masih menyimpan aroma damar dan getah karet, anak-anak Sakai menatap masa depan yang tak lagi hanya hijau daun, tapi juga biru layar. Mereka masih belajar menyeimbangkan keduanya: menjaga akar, sambil meraih sinyal.

Kebutuhan akan sinyal internet di zaman sekarang bukan hanya diperlukan oleh penduduk di kota saja, penduduk di pelosok daerah pun memerlukan jaringan yang stabil dalam mengakses internet.

Dalam hal ini pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan akses infrastruktur digital masyarakat di seluruh Indonesia.

Melalui Satelit Republik Indonesia (SATRIA)-1, Indonesia menunjukkan komitmen kuat, tak ada warga yang tertinggal dalam perjalanan menuju bangsa digital.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkapkan masih ada 2.333 desa di Indonesia yang belum memiliki koneksi internet. Dari jumlah itu, sebanyak 2.017 desa hidup tanpa layanan 4G, sementara 316 desa lainnya berupa kawasan ladang non-pemukiman.

"Angka ini semua kami yakini adalah target yang masuk akal jika kita semua bergandeng tangan menyelesaikan PR ini bersama," kata Meutya saat memimpin upacara Hari Bhakti Postel ke-80 di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 27 September 2025.

Menurut Meutya, solusi utama ada pada peningkatan penetrasi fixed broadband rumah tangga yang kini baru mencapai 27,4 persen. Selain itu, pembangunan infrastruktur telekomunikasi berdaulat juga penting untuk memperkuat pertahanan nasional di tengah dinamika geopolitik global.

"Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional perlu didorong hingga delapan persen, dan itu hanya bisa dicapai jika semua pihak berkontribusi di bidang digitalisasi," jelasnya.

Untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman dan ramah bagi anak-anak Indonesia, enam menteri dari Kabinet Merah Putih menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) komitmen bersama, yakni Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi.

Menkomdigi, Meutya Hafid, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk melindungi anak di ruang digital sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Hari ini menjadi langkah nyata kolaborasi lintas sektor sesuai pesan Presiden agar kita selalu kompak dalam melindungi anak Indonesia di ruang digital," jelas Menkomdigi dalam acara Festival Lindungi Anak di Era Digital: Digital Aman, Anak Hebat di Museum Penerangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada Kamis, 31 Juli 2025. 

Penandatanganan Nota Kesepahaman itu menjadi langkah awal pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak (PP TUNAS), sebagai wujud sinergi lintas kementerian dalam menjaga anak dari risiko paparan negatif di ruang digital.

Meutya menjelaskan, salah satu hal yang diatur oleh PP TUNAS adalah penundaan aktivitas anak di ruang digital hingga mencapai usia tertentu.

Mimpi Keadilan Digital untuk Anak-anak Sakai

Anak-anak menyukai gawai karena memberi hiburan cepat dan tanpa batas. Hanya dengan satu sentuhan, mereka bisa tertawa, belajar, atau merasa senang.

Seperti Amar dan anak-anak Suku Sakai lainnya. Menonton video lucu atau kartun di YouTube, bermain game yang memberikan reward cepat (seperti menang level atau dapat poin).

Menurut survei Kominfo & UNICEF 2024, 84% anak usia 7–15 tahun mengatakan mereka menggunakan internet "untuk hiburan dan mengisi waktu luang."

"Kalau nonton HP itu seru, banyak warna, banyak suara. Bisa ketawa," ucap Amar, siswa kelas 6 di SDN 28 Bathin Solapan.

Banyak anak juga memakai internet karena penasaran dan ingin tahu sesuatu. Mereka bisa menonton video edukatif, eksperimen sains, tutorial menggambar, atau bahkan belajar bahasa asing.

Bagi anak-anak di daerah, internet bahkan menjadi jendela dunia baru. Banyak anak kini menggunakan internet untuk mengekspresikan diri, seperti, membuat video, menggambar digital, menulis cerita, atau membuat musik.

"Aku mulai belajar edit video pakai HP, lalu kasih lagu. Aku ingin punya karya dan membuat film pendek," kata Amar lagi. Matanya berbinar saat mengenang tim dari televisi nasional datang dan membuat dokumentasi budaya adat di kampung mereka.

Namun meski begitu, banyak anak Indonesia, terutama usia SD dan awal SMP menganggap internet aman karena belum memahami risiko di balik layar.

Data Survei Literasi Digital Nasional Kominfo & Katadata Insight Center (2024) menunjukkan bahwa 72% anak dan remaja mengaku "merasa aman" saat online. Namun hanya 34% yang benar-benar tahu cara melindungi data pribadi.

Meski sudah ada banyak kampanye seperti Ruang Digital Aman dan Indonesia Makin Cakap Digital, faktanya platform yang benar-benar ramah anak (tanpa iklan, tanpa konten kekerasan, tanpa komentar kasar) masih sedikit.

"Anak-anak berhak atas ruang digital yang aman, sehat, dan berkeadilan, bukan ruang yang penuh risiko," kata Nezar Patria.

Ketika anak-anak diminta membayangkan "kalau kamu boleh membuat aturan sendiri di dunia digital", ternyata jawabannya tidak selalu tentang larangan, tapi lebih tentang keadilan, kesenangan, dan keamanan bersama.

Berdasarkan rangkuman hasil diskusi program Siberkreasi, UNICEF, dan Forum Anak Nasional 2023–2024). Anak-anak paling sering mengeluh tentang komentar kasar dan ejekan di internet. Mereka ingin ruang digital yang ramah seperti taman bermain, bukan tempat saling menjatuhkan.

"Aku pengen YouTube dan TikTok punya tombol hapus konten jorok yang bisa ditekan sama anak." — Siswa kelas 5 SD, Siak, Riau

Anak-anak merasa tidak berdaya ketika tanpa sengaja melihat konten yang menakutkan atau vulgar. Mereka ingin diberi kendali untuk membersihkan ruang digital sendiri.

"Boleh main HP, tapi cuma 1 jam terus istirahat. Nanti HP-nya tidur juga." — Anak kelas 4 SD, Rokan Hulu, 2024

Anak-anak tidak suka dilarang total, tapi mereka mengerti pentingnya waktu. Mereka ingin aturan yang adil, bukan kaku. Setelah belajar atau membantu orang tua, baru boleh main lagi.

"Boleh bikin konten sendiri asal positif. Aku mau aturan: anak-anak boleh upload video asal isinya lucu, kreatif, atau ngajarin sesuat,' — Pelajar SMP, Kampar, 2024.

Ruang digital bagi anak-anak Sakai bukan sekadar persoalan jaringan atau gawai. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara adat yang hidup di tanah dan dunia baru yang hidup di layar.

Paling penting kini bukan sekadar menghadirkan internet, tapi memastikan ruang digital yang mereka masuki aman, sehat, dan adil, tempat di mana anak-anak adat bisa tumbuh tanpa kehilangan jati diri.