Tren ‘City Night Chill': Anak Muda Pekanbaru Pertaruhkan Nyawa di Persimpangan demi Foto Estetik

Tren-city-night-chill.jpg
Sekelompok anak muda Pekanbaru berfoto di persimpangan kota saat malam hari. (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU — Fenomena baru tengah menjamur di kalangan muda-mudi Kota Pekanbaru. Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan unggahan foto dan video anak muda yang berpose di persimpangan jalan besar pada malam hingga dini hari, terutama di kawasan Tugu Zapin Jalan Jenderal Sudirman, dan Simpang Bandara Sultan Syarif Kasim II.

Di platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter), terlihat banyak kelompok anak muda duduk di tengah jalan, tertawa, berpose santai, bahkan berbaring di aspal dengan latar lampu kota yang berkilauan dan suasana sepi menjelang subuh.

Fenomena ini menggambarkan perubahan gaya hidup anak muda urban yang semakin dipengaruhi oleh budaya digital dan dorongan eksistensi di media sosial.

Bagi sebagian mereka, berfoto di titik-titik ikonik kota bukan sekadar dokumentasi, tetapi simbol kebebasan, kebersamaan, dan ekspresi diri. Aktivitas ini bahkan disebut sebagian warganet sebagai “momen healing malam hari” atau “city night chill”.

Waktu malam dipilih karena lalu lintas yang sepi, udara yang lebih tenang, serta pencahayaan kota yang dinilai lebih estetik untuk diabadikan di kamera ponsel.


Namun di balik sisi kreatifnya, tren ini juga menyimpan risiko keselamatan. Berdasarkan pantauan warga, beberapa kelompok masih berfoto di tengah jalan tanpa memperhatikan kondisi lalu lintas. Meski dilakukan tengah malam, kendaraan yang melintas tetap dapat membahayakan mereka.

Selain berpotensi mengganggu arus lalu lintas, kegiatan ini juga bisa menciptakan kerumunan yang menarik perhatian pengendara lain dan berisiko menimbulkan kecelakaan.

Jika dilakukan tanpa izin atau pengaturan yang baik, aksi tersebut dapat dikategorikan sebagai pelanggaran ketertiban umum.

Fenomena berfoto di persimpangan malam hari ini menunjukkan kreativitas dan solidaritas sosial anak muda di era digital, namun tetap membutuhkan kesadaran kolektif. Tanpa pengawasan dan aturan yang jelas, kegiatan ini bisa berubah menjadi tindakan berbahaya bagi keselamatan diri maupun pengguna jalan lainnya.

Pemerintah Kota Pekanbaru bersama aparat keamanan diharapkan dapat memberikan imbauan dengan pendekatan edukatif, bukan semata penertiban.

Edukasi mengenai keselamatan dan pemanfaatan ruang publik bisa menjadi solusi agar kreativitas anak muda tetap tersalurkan secara aman dan positif misalnya melalui kegiatan malam hari di taman kota atau area khusus seperti car free night.