Kakak Adik Asal Kampar Bertemu dalam Formasi Kebanggaan HUT ke-80 TNI

Kakak-Adik-Asal-Kampar-Bertemu-dalam-Formasi-Kebanggaan-HUT-TNI-ke-80.jpg
Mayor Penerbang Barika Harma dan Kapten Laut (P) Saputra Ihsan S.Tr., Han. (Istimewa)

RIAU ONLINE, JAKARTA — Langit ibu kota bergemuruh oleh deru mesin dan formasi pesawat yang membentuk angka “80”. Di balik spektakel itu tersimpan sebuah kisah hangat dari tanah Riau: pertemuan dua bersaudara asal Kampar yang bertemu bukan di tanah kelahiran, tetapi di medan tugas, di udara, sebagai peserta demo udara HUT ke-80 TNI tahun 2025.

Mayor Penerbang Barika Harma, lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 2009, tampil dalam formasi angka “80” yang membawa kebanggaan pribadi, institusi, dan tentu saja kampung halaman: Kampar, Riau. 

Barika yang pernah bertugas di Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin (2015–2022) dan kemudian menjadi instruktur di Sekolah Penerbang Lanud Adisucipto, dikenal oleh rekan-rekannya sebagai sosok tegas namun perhatian kepada anak didiknya.

Menemani kebanggaan itu adalah adiknya, Kapten Laut (P) Saputra Ihsan S.Tr., Han, putra kelahiran Kampar, 22 November 1993. Lulusan Akademi Angkatan Laut angkatan 64 tahun 2019, Ihsan besar di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar dan menempuh pendidikan di SDN 007 Kualu Nenas, SMP Negeri 1 Kampar, serta SMA Negeri 1 Tambang. 


Setelah dua kali mengikuti tes taruna, tekadnya berbuah manis: ia berkarir awal sebagai Danton Infanteri Batalyon Marinir 4 Cilandak, dan kini bertugas sebagai Perwira Penerbang di Skuadron 200 Puspenerbal. Pada perayaan HUT TNI kali ini, Ihsan terbang bersama Rajawali Laut Flight (RALF) pada posisi Deputy Leader.

Kisah dua putra Kampar ini juga mengingatkan pada doa dan ajaran orang tua mereka, alm. Mahyudin dan alm. Zulhasmi. 

“Kami melanjutkan doa mereka,” ujar Barika. 

“Jika ayah dan ibu masih ada, mereka pasti bangga melihat anak-anaknya terbang membawa nama Riau,” tambah Ihsan.

Di tengah formasi dan sorak-sorai peringatan, dua pesawat yang dikendalikan Barika dan Ihsan melintas berdampingan sejenak, simbol reuni yang sederhana namun sarat makna. Bukan sekadar kebanggaan militer, melainkan reuni keluarga dan bukti dari akar kampung yang tetap mengakar kuat meski sayap membawa mereka jauh.

Reuni di langit ibu kota ini menjadi cerita yang menghangatkan, tidak hanya bagi keluarga dan warga Kampar, tetapi juga bagi semua yang menyaksikan: sebuah pengingat bahwa dari desa kecil di Riau bisa lahir profesional yang menjaga kedaulatan negeri, bersama, bersaudara, di bawah satu langit merah-putih.