3.713 Warga Pekanbaru Terpapar TBC Sepanjang 2025

Ilustrasi-TBC5.jpg
Potret deteksi dini TBC warga (Antara Foto/Yudi)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru menemukan 3,713 warga terpapar penyakit tuberkulosis (TBC).

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pekanbaru, Edi Satriawan, menjelaskan bahwa ribuan kasus ini terdeteksi berkat pencarian aktif penderita (Active Case Finding/ACF) yang dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan.

“Upaya yang dilakukan, kita melaksanakan kegiatan ACF, yaitu pencarian penderita secara aktif di fasilitas kesehatan. Jadi pasien yang datang ke puskesmas dengan kriteria batuk, langsung dilakukan pemeriksaan. Itu langkah pertama,” ujar Edi, Kamis 11 September 2025.

Dalam kegiatan tersebut, Diskes Pekanbaru menggandeng 31 rumah sakit pemerintah dan swasta, 125 klinik, empat lembaga pemasyarakatan, serta satu rumah tahanan. Pemeriksaan dilakukan menggunakan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk mempercepat deteksi.

“Sekali pemeriksaan kita bisa langsung empat orang. Hasilnya keluar hanya dalam hitungan jam. Kalau positif, langsung ditindaklanjuti dengan pengobatan,” jelasnya.


Edi menekankan, temuan ribuan kasus ini justru langkah positif karena memungkinkan pemerintah menekan penyebaran TBC melalui pengobatan lebih cepat.

“Setelah ditemukan, baru kita periksa dan obati. Kalau kita hanya menunggu, itu berbeda konteksnya dengan melakukan pencarian aktif. Dengan penemuan ini, kita bisa segera menangani,” tambahnya.

Dari total 3.713 kasus, sebanyak 3.498 kasus telah ditangani. Angka tersebut mendekati target capaian tahun 2025 sebesar 4.354 kasus.

“Ini baru masuk September, dan kita sudah menemukan 3.498 kasus. Artinya capaian kita sudah cukup tinggi,” katanya.

Untuk proses pengobatan, penderita TBC harus menjalani terapi selama enam bulan tanpa boleh putus. Oleh sebab itu, Diskes mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri bila mengalami gejala mencurigakan.

“Jika batuk berlangsung selama dua minggu berturut-turut dan tidak sembuh, silakan segera periksa ke puskesmas atau fasilitas layanan kesehatan terdekat,” pungkas Edi.