Penulis: Osvian Putra
RIAU ONLINE, PEKANBARU – Jos Van Arken, nama yang mungkin tak banyak dikenal, tetapi kisah hidupnya menyimpan sejarah penting tentang Pekanbaru di masa pendudukan Jepang.
Sebelum diangkat sebagai tentara, Jos Muda hanya seorang tukang jam asal Belanda yang tak pernah ingin menjadi serdadu. Ia yang sehari-hari bekerja sebagai tukang arloji, dipaksa bergabung dengan tentara Kerajaan Belanda (KNIL) pada awal 1940-an.
Saat itu, Belanda meminta para pemuda di Hindia Belanda untuk menjadi tentara ketika mencium gelagat serangan Jepang, termasuk Jos.
Jos ditangkap di Bandung, kala kota itu menjadi pusat militer Belanda. Jepang merazia warga Eropa di berbagai wilayah usai Belanda menyerah di Kalijati. Mereka ditahan di beberapa rumah tahanan. Para tahanan awalnya dicampur, lalu dipisahkan antara sipil, militer, laki-laki, perempuan, hingga anak-anak.
Pada Mei 1944, Jos bersama hampir 2.000 tahanan perang yang berisikan sebagian besar tentara Belanda, Inggris, dan Australia, diangkut dengan kapal Chuka Maru menuju Emma Haven. Mereka merupakan bagian dari sisa aliansi ABDA (Australia, Inggris, Belanda, Amerika) yang gagal mengadang serangan Jepang di Asia Tenggara dan dibubarkan.
Setelah semalam transit di Padang, rombongan ini dibawa dengan truk militer ke Pekanbaru. Perjalanan memakan waktu sehari semalam. Mereka diturunkan di sebuah padang rumput sunyi, dikelilingi hutan karet dengan Sungai Siak di satu sisinya.
Di tempat itu, Jos dan para tahanan diperintahkan membangun barak-barak sederhana dari kayu, dapur darurat, serta kakus seadanya. Jepang kemudian memerintahkan mereka mendirikan fasilitas lebih layak bagi tentara Jepang dan penjaga kamp, termasuk barak, kantor administrasi, hingga pos penjagaan.
Lokasi itu kelak dikenal sebagai Kamp 1, yang dalam catatan militer Jepang disebut sebagai “Kamp Malay” (dalam Katakana: MA-RA-I). Istilah “Malay” digunakan karena Sumatra dan Semenanjung Malaysia berada dalam satu komando militer Jepang yang berpusat di Singapura.
Kamp 1 terletak di tepi Sungai Siak, diperkirakan berada di kawasan Jalan Tanjung Rhu hingga Pasar 50 menuju arah sungai. Pada masanya, kamp ini menampung hampir 2.000 tawanan perang.

