Bocah Jual Tisu di Tengah Hiruk Pikuk Malam Masih Warnai Pekanbaru

Bocah-Jual-Tisu-di-Tengah-Hiruk-Pikuk-Malam-Masih-Warnai-Pekanbaru.jpg
Anak penjual tisu di kawasan Kuliner Malam Cut Nyak Dien, Pekanbaru (Herianto Wibowo/Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Praktik eksploitasi anak di Kota Pekanbaru masih menjadi fenomena yang memprihatinkan dan terkesan tidak ada habisnya. Anak-anak terlihat dipaksa bekerja dengan berbagai cara, mulai dari menjadi manusia silver, meminta-minta di jalanan, hingga menjajakan tisu di kawasan ramai.

Baru-baru ini, dua bocah anak perempuan dan laki-laki terlihat menjual tisu di kawasan Kuliner Malam Cut Nyak Dien. Mereka menawarkan tisu berwarna merah muda kepada pedagang maupun pengunjung yang sedang menikmati suasana malam.

Kedua bocah itu tampak mengenakan pakaian sederhana, si perempuan dengan kaos biru dongker dengan celana panjang, sementara si laki-laki mengenakan kaos hitam juga bercelana panjang.

Dengan wajah murung, langkah mereka terlihat berat menyusuri kawasan kuliner yang dipadati kaum muda-mudi dan keluarga.


Bocah perempuan itu terlihat sangat kelelahan. Ia beberapa kali menunduk sambil menyeret kakinya ketika berjalan. Sesekali tangannya meraba tenda pedagang, seolah mencari pegangan untuk menahan letihnya.

Sorot matanya tampak kosong, menandakan beban yang tak semestinya ia pikul di usianya yang masih belia.

Sementara itu, bocah laki-laki yang menemaninya tampak sedikit lebih tegar. Kendati wajahnya tetap memancarkan lelah, ia berusaha terus melangkah dan menyodorkan tisu kepada setiap orang yang mereka temui.

Fenomena ini kembali membuka mata banyak pihak bahwa persoalan eksploitasi anak di Pekanbaru masih belum terselesaikan.

Di tengah hiruk pikuk kota yang terus berkembang, wajah-wajah kecil ini seakan menjadi potret nyata masih ada anak-anak yang kehilangan haknya untuk bermain dan belajar, digantikan dengan beban mencari nafkah di jalanan.