Warisan Kekejaman Jepang di Pekanbaru, Rel Kereta Dibangun dari Nyawa Romusha

Monumen-kereta-api-pekanbaru2.jpg
Monumen Kereta Api Simpang Tiga, Pekanbaru (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Di balik jejak rel kereta api tua yang membentang di sebagian wilayah Sumatera, tersimpan kisah kelam yang nyaris tak terdengar. Jaringan rel yang dibangun pada masa pendudukan pendudukan Jepang itu menyimpan ribuan nyawa yang melayang, para pekerja paksa atau romusha, akhirnya terbiar begitu saja saat perang usai.

Jaringan rel kereta api tersebut mulai dibangun sekitar tahun 1943, ketika militer Jepang berusaha keras mewujudkan jaringan transportasi. Ribuan romusha didatangkan dari Jawa untuk mengerjakan proyek ini, bersama para tahanan perang dari berbagai negara.

Pekerjaan dimulai dari membuka hutan lebat. Para romusha menebang pohon dengan kapak dan gergaji tangan, menyingkirkan batang-batang besar dengan tenaga sendiri. Jalur rel ditentukan dan diratakan secara manual. 

Mereka juga membuat tanggul agar posisi rel lebih tinggi dari permukaan tanah, meratakan tanggul yang sudah ditinggikan, kemudian memadatkan tanah agar layak dipasangi rel. Semua dilakukan dengan alat seadanya, seperti Kapak, gergaji manual, parang, cangkul, sekop hingga alat pemberat untuk meratakan tanah secara manual.

Mereka menebang pohon dengan ayunan kampak, memotong dengan gergaji tangan, lalu menyingkirkannya dengan tangan atau bahu mereka sendiri.

Namun beban terberat mereka bukan sekadar fisik. Asupan makanan minim, waktu kerja panjang dari pagi hingga malam, serta kondisi lingkungan yang mematikan menjadikan proyek ini ladang pembantaian tak bersenjata.

Para pekerja itu dibagi dalam beberapa tim, mulai dari tukang tebang, tukang sisik untuk menyingkirkan ranting-ranting besar agar kayu yang sudah dipotong mudah disingkirkan. Tukang gergaji, untuk memotong dan membelah kayu yang dirasa cocok untuk dijadikan bantalan rel, sementara sisanya dijadikan kayu bakar. 


Ada pula tim angkat dan angkut. Tim yang tugasnya menaikkan elevasi tanah untuk dibuat gundukan dengan memposisikan rel kelak, dan tim angkat tanah yang dilakukan secara manual dengan keranjang rotan.

Saat malam tiba, para pekerja harus mengurus makan sendiri usai seharian dihajar matahari khatulistiwa. Mereka harus berjuang lagi untuk membuat dan memasak makanan.

Jika beruntung, mereka bisa menemukan umbi-umbian, talas, pucuk pakis, atau tanaman hutan lain di sepanjang jalur. Bahan-bahan itu kemudian mereka masak bersama jadi menu sederhana yang menyambung hidup seadanya.

Tapi, tetap saja penderitaan mereka tidak sampai disitu. Saat siang mereka harus menanggung panasnya matahari khatulistiwa yang membakar tubuh. Ketika malam tiba, mereka harus berperang melawan nyamuk. Belum lagi intaian binatang liar mulai dari ular, harimau maupun gajah. 

Tidak ada tempat istirahat memadai dan manusiawi yang tersedia untuk mereka. Dapat balai-balai dengan atap rumbia yang kerap tanpa dinding dan bocor di waktu hujan saja sudah suatu kemewahan.

Menurut kesaksian M. Syafei, seorang penerjemah lokal yang dipekerjakan Jepang kala itu, lebih dari 200 ribu nyawa romusha melayang dalam proyek pembangunan rel kereta api ini. Mereka mati karena kelaparan, malaria, beri-beri, disentri, kekurangan gizi, hingga kekejaman para penjaga Korea yang bekerja untuk militer Jepang.

Kesaksian ini dapat dibaca di papan informasi Monumen Kereta Api Simpang Tiga, Pekanbaru. Dalam narasi penuh satire yang memilukan, tertulis “setiap satu bantalan kereta, setara dengan satu nyawa Romusha”. 

Hari ini, rel tua itu mungkin hanya tinggal potongan sejarah. Tapi di balik besi karatan dan jalur yang terputus, ada nyawa-nyawa yang patut dikenang, dan kisah yang tak boleh dihapus dari ingatan bangsa.