RIAU ONLINE, PEKANBARU - Ratusan murid Kelas IIIA, B dan C belum menerima seragam batik sebagaimana yang telah dijanjikan pihak sekolah SDN 034 Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar Riau.
Hal ini tentu dikeluhkan sejumlah walimurid yang telah membayar uang Rp1,3 juta untuk 5 stel seragam sekolah. Namun yang diberikan baru 4 stel seragam dan masih menyisakan satu seragam batik.
Seperti yang dikeluhkan salah seorang walimurid, Hendri (42), yang mengungkapkan bahwa dari lima stel baju seragam yang dijanjikan, siswa hanya menerima empat stel.
Menurut Hendri, dalam kurun waktu setahun terakhir pihaknya masih menunggu satu stel seragam batik yang seharusnya termasuk dalam paket, namun tak kunjung diberikan hingga kini.
"Perjanjian awal hasil rapat antara guru dan Panitia Pengadaan Baju Komite serta walimurid, uang sebesar Rp1,3 juta itu diperuntukkan untuk lima stel baju".
"Tapi setelah tiga tahun berjalan, yang diberikan hanya empat stel. Satu stel baju batik belum diterima," ujar Hendri, Sabtu, 26 Juli 2025.
Hendri bersama beberapa orang tua lainnya telah mencoba mengklarifikasi hal tersebut kepada panitia pengadaan baju sekolah yang diwakili oleh Ketua Komite Sekolah, Anto. Namun, jawaban yang diterima dinilai tidak memuaskan.
"Saya sudah temui langsung Pak Anto selaku Komite Sekolah. Dia bilang baju batik itu bukan bagian dari pembelian, hanya bonus. Kalau keluar izin dari dinas, baru akan diberikan. Padahal dari informasi walimurid lainnya, baju batik itu memang termasuk dalam paket Rp1,3 juta," tegasnya.
Lebih lanjut, Hendri mempersoalkan rincian penggunaan dana. Jika satu siswa diminta membayar Rp1,3 juta untuk lima stel seragam, maka estimasi harga satu stel berkisar Rp260 ribu.
Namun yang diterima hanya empat stel, yang berarti masih ada kelebihan dana sebesar Rp260 ribu per siswa. Dengan jumlah siswa yang diperkirakan mencapai 100 orang, total dana yang dipertanyakan mencapai Rp26 juta.
"Kalau uang Rp1,3 juta dibagi lima, itu Rp260 ribu per stel. Nah, kalau hanya dikasih empat stel, kelebihan satu stel itu ke mana uangnya? Total bisa sampai Rp26 juta. Ini yang kami pertanyakan," jelas Hendri.
Hendri juga menyoroti minimnya transparansi dalam pengelolaan dana tersebut, karena tidak ada kwitansi atau bukti pembayaran yang diterima oleh walimurid.
"Sampai sekarang tidak ada kwitansi. Padahal itu uang masyarakat. Kami ingin ada kejelasan dan pertanggungjawaban dari pihak sekolah," tutupnya.
Redaksi Riau Online sudah mencoba mengkonfirmasi kepada Kepala Sekolah SDN 034 Taraibangun, Hartono, terkait persoalan diatas, namun belum ada tanggapan hingga berita ini diturunkan.
Ratusan Orang tua siswa berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar segera turun tangan untuk mengaudit dan mengevaluasi laporan penggunaan dana pengadaan seragam tersebut.

