Sebelum Jabat Kapolda, Irjen Herry Heryawan Akui Pernah Sebut Riau Penghasil Asap

Sebelum-Jabat-Kapolda-Irjen-Herry-Heryawan-Akui-Pernah-Sebut-Riau-Penghasil-Asap.jpg
Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan saat turun langsung dalam upaya pemadaman Karhutla. (Dok. Polda Riau)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau, Irjen Herry Heryawan, mengakui bahwa sebelum menjabat sebagai pimpinan tertinggi kepolisian di Bumi Lancang Kuning, dirinya menyimpan stigma (pandangan) negatif terhadap Provinsi Riau.

Stigma itu tak lain adalah citra buruk Riau sebagai salah satu daerah penyumbang asap terbesar akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

Namun setelah menjabat sebagai Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan menyadari bahwa kenyataan tersebut memang belum berubah banyak dan bahkan Jenderal bintang dua itu terjun langsung memadamkan Karhutla di Kabupaten Rohil dan Rohul.

"Sebelum saya datang ke sini, saya mohon maaf, saya memiliki stigma yang negatif, terutama melihat Riau sebagai salah satu provinsi penghasil asap," ujar Irjen Herry Heryawan, Senin, 7 Juli 2025 lalu.

Meskipun mengakui masih merasakan kenyataan pahit tersebut, Irjen Herry tak ingin menyerah begitu saja. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk bersama-sama mengubah citra buruk itu dengan membangun kesadaran lingkungan.


"Saya mengajak kita semua untuk bisa membuat komitmen bersama agar kita bisa mengubah stigma itu. Caranya adalah dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan baik, menjadikannya satu habitat dan karakter yang baik," jelas Herry.

"Kita harus terus menumbuhkan moral dan cinta lingkungan, salah satunya melalui gerakan penanaman pohon dan mencegah pembakaran lahan," tambahnya.

Sayangnya, di tengah upaya perubahan citra itu, Riau kembali dilanda Karhutla cukup masif. Sejumlah wilayah seperti Rokan Hilir (Rohil), Rokan Hulu (Rohul), Pelalawan, Bengkalis, Dumai, Kampar hingga Kepulauan Meranti dilaporkan mengalami kebakaran lahan dan hutan.

Rohil tercatat sebagai wilayah terdampak terluas dengan lahan yang terbakar mencapai 600 hektare hingga 20 Juli 2025.

Upaya pengendalian api pun dihadapkan pada sejumlah kendala, salah satunya adalah kerusakan helikopter water bombing (WB), yang selama ini menjadi andalan dalam pemadaman dari udara.

Kapolda Riau juga mengingatkan masyarakat tentang tragedi kabut asap hebat yang pernah melanda Riau dan Sumatera pada periode 2014 hingga 2016. 

Kala itu, kabut asap begitu pekat hingga mengganggu penerbangan dan memaksa warga menempuh jalur laut demi bisa keluar dari Riau.

"Kita tentunya tidak mau kembali ke masa 2014-2016. Saat itu, mau berangkat ke Jakarta saja harus menyeberang dari Tanjung Buton ke Batam, baru naik pesawat ke Jakarta. Atau bahkan harus ke Medan dan Padang dulu," kenangnya.