Perempuan ini Curhat Hamil dan Ditinggalkan oleh Mahasiswa Pekanbaru

ibu-hamil7.jpg
Ilustrasi (pixabay)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Seorang perempuan dengan akun media sosial TikTok @theyary124 mengaku telah hamil bersama seorang laki-laki yang merupakan mahasiswa Universitas Negeri di Pekanbaru.

"Semua ini bermula pada 5 Mei, saat saya dinyatakan ‘hamil’ setelah melakukan tes kehamilan yang menunjukkan dua garis jelas," tulisnya dalam curhatan di media sosialnya pada Jumat, 11 Juli 2025.

Pengunggah menyebut bahwa laki-laki yang berinisial TLI tersebut mulanya meragukan kebenaran kondisi kehamilan tersebut, hingga memilih untuk lari.

“Bukannya menjadi pria yang bertanggung jawab, dia justru memilih untuk lari, menghindar, dan membiarkan saya menghadapi semuanya sendirian," lanjutnya bercerita.

Pengunggah juga mengaku bahwa dirinya telah melakukan upaya komunikasi untuk menyelesaikan masalah. Namun, yang terjadi justru menciptakan luka yang lebih dalam.

"Dia menuduh saya hamil dengan laki‑laki lain fitnah yang menghancurkan mental dan harga diri saya," tambahnya.


Ia menegaskan bahwa tuduhan tersebut membuatnya hampir menyerah menghadapi tekanan mental yang begitu berat.

"Dia pernah berkata ingin bertanggung jawab, tapi dengan syarat yang tak terbayangkan nyawa kecil ini harus disingkirkan," lanjutnya bercerita.

"Kali demi kali dia menekan, memaksa, hingga saya kehabisan daya. Jika saya menolak, dia mengancam pergi dan meninggalkan semuanya.”

Akibat tekanan tersebut, wanita tersebut kehilangan anaknya bukan karena keinginannya sendiri.

"Luka ini tak akan pernah sembuh." keluh kesahnya.

Wanita itu hampir kehilangan harapan hidupnya. Dalam kondisi mental terburuk, ia mengaku nyaris mengakhiri hidup karena beban yang terlalu berat tertanggung.

Setelah keguguran, sang pelaku baru memberikan sejumlah uang dan permintaan maaf yang dianggapnya tidak mencukupi.

"Setelah semua yang saya lalui rasa sakit, trauma, kehilangan, kehancuran mental dia hanya memberi saya uang yang tidak seberapa dan permintaan maaf yang tidak akan mengembalikan keadaan," lanjutnya.

Tidak ada perhatian nyata dari keluarga sang kekasih, justru dirinya merasa terus disalahkan.

"Saya justru terus disalahkan, seolah‑olah saya yang bersalah, dan dia adalah korban,” sambungnya.