Tangis dan Darah Rakyat Riau Perjuangkan Adat Melayu dari Kebengisan Jepang

Ilustrasi-Penjajahan-Jepang.jpg
(Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kehadiran Jepang membawa banyak perubahan sistem sosial budaya dan norma-norma yang berlaku pada diri masyarakat Riau. Sistem dan norma diganti dengan aturan main Jepang.

Sistem dan norma yang diganti sesuai aturan Jepang membuat masyarakat Riau meradang. Perlawanan mereka diwarnai tangisan dan darah.

Masyarakat Riau menganggap Jepang sebagai pemerkosa nilai luhur adat melayu yang menjunjung ‘adat bersanding syara’, syara’ bersanding kitabullah’. Jepang memaksakan keinginannya tanpa mengenal prikemanusiaan.

Ahmad Yusuf dalam bukunya Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2022 menuliskan bahwa rakyat mesti hormat kepada balatentara Jepang, taat dan patuh terhadap perintah, harus melaksanakan Saikerei yaitu membungkukan badan ke arah Utara (Negeri Jepang) dengan maksud penghormatan kepada kaisar (Tenno Heika) hal ini mencederai Aqidah dan Adat Rakyat Riau karena Seikerei mengandung kesyirikan, kekufuran, dan merendahkan. Tidak adanya pengurusan jenazah, tidak adanya majelis, berkumpul saja dicurigai.

Adat Melayu dibuang jauh-jauh dari Bumi Lancang Kuning. Jepang hanya memikirkan cara menjapanisasikan rakyat jajahannya. Pukulan, siksaan hingga kematian menanti jika peraturan tersebut dilanggar. Wanita-wanita kampung diculik untuk dijadikan wanita penghibur pelampiasan birahi.



Melihat kondisi Riau semakin memburuk, perlawanan dilakukan sebab keyakinan tak akan hilangnya Melayu di bumi, bumi bertuah negeri beradat. 

Seorang Junsa Jepang, bernama M. Tambunan dibunuh di Bagan siapi-api, pada 1944, tepatnya di Desa Labuhan Tangga Kecil. Hari itu bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, Jepang melarang rakyat untuk melakukan takbir dan bersembahyang, oleh karena itu rakyat menggerebek kantor polisi dan komandannya M. Tambunan ditikam perutnya hingga tewas.

Kekacauan terjadi dimana-mana, akibat perlawanan rakyat. Jepang semakin beringas banyak orang digantung, disandarkan di tiang, dicambuk, dipukuli. Muka dan dadanya berbekas dan berdarah, mengerang kesakitan bukan mendapatkan rasa iba, tapi cambukan dan siksaan yang lebih ganas lagi.

Meski perjuangan diwarnai tangisan dan darah, rakyat Riau tetap berjuang. Hingga pada akhir Agustus 1945 tersiar berita penyerahan tanpa syarat balatentara Jepang kepada sekutu. Hal ini membawa kabar gembira dan semangat baru rakyat Riau.

Artikel ini ditulis A.Bimas Armansyah, peserta program Magang Bersertifikat Kampus Merdeka di RIAU ONLINE